Senin, 21 Juli 2008
AKIDAH TAUHID DAN AKHLAK QURANI
AKIDAH TAUHID DAN AKHLAK QURANI
RUH DAKWAH PENDIDIKAN, STRATEGI MENGHIDUPKAN
PEMBINAAN MADRASAH, DI SUMATERA BARAT
Oleh : H. Mas’oed Abidin
PENDAHULUAN
Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya.

Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.
Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.
Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau.
Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL PENGUJUNG ABAD KE-19
Sumatera Barat menandai satu masa perkembangan sosial dan intelektual yang deras dipengujung abad ke 19. Diawali pulangnya putra-putra Minangkabau dari menimba ilmu di Mekah.
Mereka membawa ruh pembaharuan pendidikan Islam sebagaimana digerakan Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir.
Ruh pendidikan madrasah di Minangkabau itu, tidak dapat dilepaskan dari pelajaran-pelajaran yang diberikan seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang banyak menyebarkan pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 Beliau adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855) , turunan dari seorang hakim gerakan Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda.
Di samping itu ada seorang pembaru yang tidak dapat dilupakan, walau lebih dikenal di tanah serantau, yaitu Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956) .
Syekh Taher Djalaluddin terbilang seorang tertua dan pelopor ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan di tanah Melayu.
Dia juga adalah guru kalangan pembaru Minangkabau.
Pengaruhnya tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah yang bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Ulama-ulama Minangkabau itu, di antaranya Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek (1860-1947) , M. Thaib Umar di Sungayang (1874-1920), Haji Abdul Karim Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945) , Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933) , dan Syekh Ibrahim Musa .
Mereka menyebarkan peranannya dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat modern.
Nafas yang ditiupkan oleh ruh dakwah pendidikan membawa satu perubahan besar dan signifikan di masanya.
Para ulama suluah bendang di nagari memasuki era baru.
Mereka menjadi kelompok pembaru di sisi ehidupan sosial masyarakat.
Di antaranya Zainuddin Labai al-Yunusi (1890- 1934) di Padangpanjang.
MADRASAH DAN SURAU MENGAWAL RUHUL ISLAM
Umumnya para murid bekas ulama-ulama tersebut kemudian menjadi pelopor pembaruan pemikiran Islam di Ranah Minang melalui surau. Keadaan ini bergerak terus, sesuai dinamika dan tuntutan zaman, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan.
Madrasah telah menjadi markas pergerakan bawah tanah (silent operation) menentang kaum penjajah, sehingga berakibat semua gerak dan geliatnya selalu dicurigai oleh penguasa penjajahan semasa.
Dicatat oleh sejarah bahwa benang merah yang dipunyai para pejuang adalah terpelajar, beragama yang taat dan peribadi mandiri.

Dari surau penguatan madrasah dimulai.
Orientasi pendidikan ditekankan pada penanaman aqidah.
Didukung dengan ilmu ilmu agama, pembinaan fisik, dan mental (melalui latihan silat), pelajaran kesenian dan ketrampilan.
Lulusan surau ideal inilah kombinasi ulama, pejuang, jiwa seni, mandiri dan terampil.
Setelah masuknya pendidikan modern awal abad ke 20 (1929) surau berkembang dengan sistem klasikal.
Contohnya Madrasah Irsyadin Naas (MIN), Perguruan Diniyah Puteri, Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah.
BERURAT KE HATI MASYARAKAT
Para pemuka masyarakat di masa itu umumnya jebolan madrasah.
Mereka memiliki pikiran maju rasional dan cinta tanah airnya.
Sesuai bimbingan agama Islam yang diterima dari pelajaran surau dan madrasah. Para thalabah lulusan madrasah Thawalib dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput.
Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam.
Untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami).
Seiring pula dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, para ulama adalah tempat meminta kata putus (bamuti).

Pandangan dan pemahaman para lulusan madrasah sangat nyata berbeda dengan anutan jebolan sekolah gubernemen di masa penjajahan.
Maka tidak jarang terjadi di masa itu, ada pandanagan dan anggapan pemisah antara kaum ulama (santri, urang siak, mualim, urang surau) yang bersekolah di madrasah dengan kalangan ambtenaren berdasi berpentalon.
Perbedaan tajam itu, berakibat kepada perlakuan pemerintah masa itu, dalam melihat dan menilai madrasah, sebagai lembaga pendidikan kelas dua, bahkan terkesan berlawanan dengan pihak pemerintah.
Di masa perjalanan kemerdekaan, dan pembangunan sentralistik madrasah mengalami pembedahan-pembedahan pula pada tubuhnya.
DEKAT MENDEKATI
Pada dua decade 1970 pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan madrasah Islam, dengan mulai melakukan rekonsiliasi dengan Islam melalui dekat mendekati dan penyesuaian penyesuaian (rapprochement).
Terjadi penyeragaman.
Ciri khas dari Madrasah mulai tiada.

Konsekwensinya, pendidikan dan program madrasah disejajarkan dan bergayut kepada pemerintah, maka akibat yang terasa adalah kurangnya kemandirian perguruan madrasah dinagari-nagari dan dampak negatifnya potensi masyarakat melemah.
Padahal pada awal keberadaan madrasah itu, sejak abad 18 sebagai kita sebut di atas para ulama penggagas dan pengasuh madrasah memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat.
Ada suatu hubungan saling menguntungkan (symbiotic relationship).
Sehingga madrasah menjadi kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) dan respon pemimpin serta komunitas Muslim terhadap penjajahan.
Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, telah mendorong pengasuh untuk mengadopsi sistim pendidikan seperti perguruan tradisional di Jawa.
Akibatnya, pemeranan masyarakat dan lingkungan di dalam menghidupkan kembali ruh pendidikan madrasah, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar) menjadi kurang.
Madrasah hanya dapat hidup dengan dukungan pemilik badan pengasuh madrasah, serta pendapatan-pendapatan madrasah itu sendiri.
Keadaan ini menjadi lebih berat, ketika madrasah menjadi anak tiri pemerintah seperti di masa lalu.
Ironisnya masyarakat lingkungan tidak pula mengaggap madrasah sebagai anak kandungnya lagi.
Sering terjadi madrasah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim di lingkungan masyarakat yang melahirkan madrasah itu.

Peran serta masyarakat mesti ditumbuhkan kembali di dalam peningkatan manajemen pendidikan yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi, sehingga sumber finansial masyarakat dipertanggung jawabkan lebih efisien dan kualitas pendidikan – quality oriented – yang mendorong madrasah menjadi lembaga center of excellence.
Tantangan kesejagatan yang deras kini berupa materialistis, sekularistis, hedonistic dan hilangnya budaya luhur, menuntut agar Madrasah dapat menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan.
Konsekwensinya sistim pendidikan Islam tidak boleh terpisah.
Mesti menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Muslim keseluruhan.
Perlu penerapan nilai-nilai agama dan ibadah.
Penguatan perilaku beradat.
Pengintegrasian iptek, imtaq dan akhlaq.
Melalui pengembangan ini madrasah akan menjadi pusat membangun sahsiah generasi dengan sifat-sifat ruhaniah yang halus, dan sifat-sifat akhlaq yang mulia.
Secara ideal, peran madrasah adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional yang "Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional).
Dengan terjaganya ruh dakwah dan pendidikan, maka madrasah akan lebih mudah mencapai sasarannya.
Membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya. Inilah hakikat dari dakwah bil hal.
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
PENDIDIKAN DAN PERAN DAKWAH
Peran da'wah di Minangkabau adalah menyadarkan umat akan peran membentuk diri mereka sendiri, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri."
Dalam kenyataan social dalam kehidupan anak nagari wajib diakui keberadaan mereka dengan menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadari potensi besar yang dimiliki akan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab.
Inilah tuntutan terhadap Da'wah Ilallah, yakni seruan kepada Islam -- agama yang diberikan Khaliq untuk manusia --, yang penyiarannya dilanjutkan oleh da'wah, untuk kesejahteraan hidup manusia. "Risalah merintis, da'wah dan pendidikan melanjutkan"
KEWAJIBAN MEMBANGUN GENERASI PENYUMBANG (INNOVATOR)
UUD 1945 meletakkan kewajibkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan Nasional yang meningkatkan Keimanan dan
Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian ada kewajiban membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.
Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan.
Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi.
Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.
Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Generasi penerus harus taat hukum.
Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga pendidikan (madrasah), masyarakat lingkungan, keluarga dan rumah tangga.
Memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif.
Memperkaya warisan budaya dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.
Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut.
Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama.
Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.
Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu.
Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.
MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS
Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas "gotong royong", berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta'awunitas.
Beberapa model dapat dikembangkan.
Pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.
Intensif menjauhi kehidupan materialistis, sebagai upaya menghadapi tantangan global. “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.
Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.
Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,
1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
a. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
b. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
c. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman).
2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
a. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
c. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
d. Lapang dada – hilm --, pemaaf dan toleransi.
e. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,
3.1. Sikap Mental,
a. Cerdas, pintar, menguasai spesialisasi (takhassus),
b. Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih, bijak.
c. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat.
3.2. Sifat Kejiwaan,
a. emosi terkendali, optimis hidup, harap kepada Allah,
b. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
c. Lemah lembut, baik dalam pergaulan dengan masyarakat.
3.3. Sifat Fisik,
a. mencakup sehat tubuh,
b. berpembawaan menarik, bersih,
c. rapi (kemas) dan menyejukkan.
Senarai panjang menerangkan sikap pendidik berkelakuan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin baik, adil menerapkan aturan.
Mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah.
Murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;
1) Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah istiqamah, beramal soleh dengan khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.
2) Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.
3) Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.
4) Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah dengan amanah.
5) Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.
6) Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari mencemarkan sejawat dan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social karena Allah.
7) Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak mengabaikan kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga syari’at Allah.
8) Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.
KESIMPULANNYA,
1. Ruh pendidikan madrasah afalah aqidah tauhid dan akhlaqul karimah. Pemetaannya akan berhasil di lapangan pendidikan dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Perlu digalang saling pengertian, koordinasi sesame, mempertajam faktor-faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan.
2. Ukuran madrasah berkualitas adalah kemampuan menampilkan nilai-nilai Al-Qur'an dengan gerak amal nyata yang terus menerus, dibuktikan dalam seluruh aktivitas kehidupan, dengan kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, mengajak (da'wah), merapatkan potensi barisan dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama, sehingga berbuah pengamalan agama yang mendunia.
3. Setiap generasi Muslim yang ditempa di Madrasah mampu mengamalkan nilai-nilai Al Qur'an, dan wajib mengemban missi yang berat dan mulia, yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang harus selamanya dijaga menjadi ruh dari pembinaan madrasah.

4. Pembinaan Madrasah berkualitas dan mandiri berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).
5. Madrasah adalah perangkat seutuhnya menuju kepada kemajuan. Di tengah tantangan berjibun ini, kerjakan sekarang mana yang dapat, mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Tumbuhkan kesadaran keumatan yang kolektif. Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah) di bidang Da'wah dan Pendidikan. Kerja ini tidak akan pernah berhenti, dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang selalu berubah. Tujuan harus tetap menuju redha Allah. Inilah ruhnya Madrasah.
Wabillahitaufiq wal hidayah,
Padang, 25 Jumadil Akhir 1429 H / 29 Juni 2008 M.
RUH DAKWAH PENDIDIKAN, STRATEGI MENGHIDUPKAN
PEMBINAAN MADRASAH, DI SUMATERA BARAT
Oleh : H. Mas’oed Abidin
PENDAHULUAN
Upaya dan usaha umat Islam di Sumatera Barat di dalam menghidupkan perguruan Islam yang disebut Madrasah (kini lazim disebut Pesantren) sepanjang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Khusus untuk daerah Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat, upaya itu tampak jelas sejak dari mula pendiriannya oleh ulama di nagari dan masyarakat selingkarannya.

Demikian pula dengan pengembangan madrasah-madrasah itu, sejak dari surau, mulai dari wirid ke madrasah, sampai ke perguruan tinggi, selalu dengan perlibatan dan pemberdayaan semua potensi masyarakat, sejak dari kampong sampai ke rantau.
Usaha-usaha terpadu ini, telah melahirkan berbagai tingkat pendidikan, sejak dari tingkat awaliyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, ‘aliyah, hingga ketingkat kulliyah. Hasilnya, hingga saat ini, kita temui sebagai upaya bersama masyarakat, yang sesungguhnya sudah melalui rentang waktu yang panjang.
Selama dua abad sampai sekarang, sejak kembalinya tiga serangkai ulama zuama Minangkabau (1802), yaitu Haji Miskin di Pandai Sikek, Luhak Agam, Haji Abdur Rahman, di Piobang, Luhak Limopuluah, dan Haji Muhammad Arief, di Sumanik, Luhak nan Tuo, Tanah Datar, lazim dikenal bergelar Tuanku Lintau.
Ketiga mujahid dakwah ini telah membawa penyadaran pemikiran dan memacu semangat umat mengamalkan agama Islam yang benar di dalam kehidupan beradat di Minangkabau. Jalan yang mesti ditempuh adalah menggiatkan masyarakat menuntut ilmu.
PERKEMBANGAN INTELEKTUAL PENGUJUNG ABAD KE-19
Sumatera Barat menandai satu masa perkembangan sosial dan intelektual yang deras dipengujung abad ke 19. Diawali pulangnya putra-putra Minangkabau dari menimba ilmu di Mekah.
Mereka membawa ruh pembaharuan pendidikan Islam sebagaimana digerakan Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir.
Ruh pendidikan madrasah di Minangkabau itu, tidak dapat dilepaskan dari pelajaran-pelajaran yang diberikan seorang pelopor gerakan pembaruan di Minangkabau yang banyak menyebarkan pikirannya dari Mekah pada awal abad ke-20 Beliau adalah Syekh Ahmad Khatib EL Minangkabawy (1855) , turunan dari seorang hakim gerakan Paderi yang sangat anti penjajahan Belanda.
Di samping itu ada seorang pembaru yang tidak dapat dilupakan, walau lebih dikenal di tanah serantau, yaitu Syekh Taher Djalaluddin (1869-1956) .
Syekh Taher Djalaluddin terbilang seorang tertua dan pelopor ajaran Ahmad Khatib di Minangkabau dan di tanah Melayu.
Dia juga adalah guru kalangan pembaru Minangkabau.
Pengaruhnya tersebar pada murid-muridnya melalui majalah Al-Imam dan melalui sekolah yang didirikannya di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908. Sekolah yang bernama Al-Iqbal al-Islamiyah, menjadi model Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang pada tahun 1908.

Ulama-ulama Minangkabau itu, di antaranya Muhammad Djamil Djambek atau Inyik Djambek (1860-1947) , M. Thaib Umar di Sungayang (1874-1920), Haji Abdul Karim Amarullah atau Inyik Rasul (1879-1945) , Haji Abdullah Ahmad (1878 – 1933) , dan Syekh Ibrahim Musa .
Mereka menyebarkan peranannya dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat modern.
Nafas yang ditiupkan oleh ruh dakwah pendidikan membawa satu perubahan besar dan signifikan di masanya.
Para ulama suluah bendang di nagari memasuki era baru.
Mereka menjadi kelompok pembaru di sisi ehidupan sosial masyarakat.
Di antaranya Zainuddin Labai al-Yunusi (1890- 1934) di Padangpanjang.
MADRASAH DAN SURAU MENGAWAL RUHUL ISLAM
Umumnya para murid bekas ulama-ulama tersebut kemudian menjadi pelopor pembaruan pemikiran Islam di Ranah Minang melalui surau. Keadaan ini bergerak terus, sesuai dinamika dan tuntutan zaman, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan.
Madrasah telah menjadi markas pergerakan bawah tanah (silent operation) menentang kaum penjajah, sehingga berakibat semua gerak dan geliatnya selalu dicurigai oleh penguasa penjajahan semasa.
Dicatat oleh sejarah bahwa benang merah yang dipunyai para pejuang adalah terpelajar, beragama yang taat dan peribadi mandiri.

Dari surau penguatan madrasah dimulai.
Orientasi pendidikan ditekankan pada penanaman aqidah.
Didukung dengan ilmu ilmu agama, pembinaan fisik, dan mental (melalui latihan silat), pelajaran kesenian dan ketrampilan.
Lulusan surau ideal inilah kombinasi ulama, pejuang, jiwa seni, mandiri dan terampil.
Setelah masuknya pendidikan modern awal abad ke 20 (1929) surau berkembang dengan sistem klasikal.
Contohnya Madrasah Irsyadin Naas (MIN), Perguruan Diniyah Puteri, Thawalib dan Perguruan Muhammadiyah.
BERURAT KE HATI MASYARAKAT
Para pemuka masyarakat di masa itu umumnya jebolan madrasah.
Mereka memiliki pikiran maju rasional dan cinta tanah airnya.
Sesuai bimbingan agama Islam yang diterima dari pelajaran surau dan madrasah. Para thalabah lulusan madrasah Thawalib dan pendidikan sistim surau, umumnya berkiprah di kampung halaman setelah selesai menuntut ilmu, dengan mendirikan sekolah-sekolah agama, bersama-sama dengan masyarakat, memulainya dari akar rumput.
Pemberdayaan potensi masyarakat digerakkan secara maksimal dan terpadu untuk menghidupkan pendidikan Islam.
Untuk mencerdaskan umat dan menanamkan budi pekerti (akhlak Islami).
Seiring pula dengan berlakunya kaedah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, para ulama adalah tempat meminta kata putus (bamuti).

Pandangan dan pemahaman para lulusan madrasah sangat nyata berbeda dengan anutan jebolan sekolah gubernemen di masa penjajahan.
Maka tidak jarang terjadi di masa itu, ada pandanagan dan anggapan pemisah antara kaum ulama (santri, urang siak, mualim, urang surau) yang bersekolah di madrasah dengan kalangan ambtenaren berdasi berpentalon.
Perbedaan tajam itu, berakibat kepada perlakuan pemerintah masa itu, dalam melihat dan menilai madrasah, sebagai lembaga pendidikan kelas dua, bahkan terkesan berlawanan dengan pihak pemerintah.
Di masa perjalanan kemerdekaan, dan pembangunan sentralistik madrasah mengalami pembedahan-pembedahan pula pada tubuhnya.
DEKAT MENDEKATI
Pada dua decade 1970 pemerintah mulai membuka akses lebih besar ke dunia pendidikan madrasah Islam, dengan mulai melakukan rekonsiliasi dengan Islam melalui dekat mendekati dan penyesuaian penyesuaian (rapprochement).
Terjadi penyeragaman.
Ciri khas dari Madrasah mulai tiada.

Konsekwensinya, pendidikan dan program madrasah disejajarkan dan bergayut kepada pemerintah, maka akibat yang terasa adalah kurangnya kemandirian perguruan madrasah dinagari-nagari dan dampak negatifnya potensi masyarakat melemah.
Padahal pada awal keberadaan madrasah itu, sejak abad 18 sebagai kita sebut di atas para ulama penggagas dan pengasuh madrasah memiliki jalinan hubungan yang kuat dengan masyarakat.
Ada suatu hubungan saling menguntungkan (symbiotic relationship).
Sehingga madrasah menjadi kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) dan respon pemimpin serta komunitas Muslim terhadap penjajahan.
Merosotnya peran kelembagaan pendidikan madrasah di Minangkabau dalam bentuk surau, telah mendorong pengasuh untuk mengadopsi sistim pendidikan seperti perguruan tradisional di Jawa.
Akibatnya, pemeranan masyarakat dan lingkungan di dalam menghidupkan kembali ruh pendidikan madrasah, khususnya dalam bidang dana dan daya (tenaga pengajar) menjadi kurang.
Madrasah hanya dapat hidup dengan dukungan pemilik badan pengasuh madrasah, serta pendapatan-pendapatan madrasah itu sendiri.
Keadaan ini menjadi lebih berat, ketika madrasah menjadi anak tiri pemerintah seperti di masa lalu.
Ironisnya masyarakat lingkungan tidak pula mengaggap madrasah sebagai anak kandungnya lagi.
Sering terjadi madrasah lahir dan tumbuh sebagai anak yatim di lingkungan masyarakat yang melahirkan madrasah itu.
Peran serta masyarakat mesti ditumbuhkan kembali di dalam peningkatan manajemen pendidikan yang lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi, sehingga sumber finansial masyarakat dipertanggung jawabkan lebih efisien dan kualitas pendidikan – quality oriented – yang mendorong madrasah menjadi lembaga center of excellence.
Tantangan kesejagatan yang deras kini berupa materialistis, sekularistis, hedonistic dan hilangnya budaya luhur, menuntut agar Madrasah dapat menghasilkan anak didik berparadigma ilmu yang komprehensif, yakni pengetahuan agama plus keterampilan.
Konsekwensinya sistim pendidikan Islam tidak boleh terpisah.
Mesti menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Muslim keseluruhan.
Perlu penerapan nilai-nilai agama dan ibadah.
Penguatan perilaku beradat.
Pengintegrasian iptek, imtaq dan akhlaq.
Melalui pengembangan ini madrasah akan menjadi pusat membangun sahsiah generasi dengan sifat-sifat ruhaniah yang halus, dan sifat-sifat akhlaq yang mulia.
Secara ideal, peran madrasah adalah perwujudan dari tujuan pendidikan nasional yang "Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional).
Dengan terjaganya ruh dakwah dan pendidikan, maka madrasah akan lebih mudah mencapai sasarannya.
Membuat anak didik menjadi terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated ditengah masyarakatnya. Inilah hakikat dari dakwah bil hal.
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
PENDIDIKAN DAN PERAN DAKWAH
Peran da'wah di Minangkabau adalah menyadarkan umat akan peran membentuk diri mereka sendiri, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "Sesungguhnya Allah tidak akan merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha merobah sikap mereka sendiri."
Dalam kenyataan social dalam kehidupan anak nagari wajib diakui keberadaan mereka dengan menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka, menyadari potensi besar yang dimiliki akan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab.
Inilah tuntutan terhadap Da'wah Ilallah, yakni seruan kepada Islam -- agama yang diberikan Khaliq untuk manusia --, yang penyiarannya dilanjutkan oleh da'wah, untuk kesejahteraan hidup manusia. "Risalah merintis, da'wah dan pendidikan melanjutkan"
KEWAJIBAN MEMBANGUN GENERASI PENYUMBANG (INNOVATOR)
UUD 1945 meletakkan kewajibkan kepada Pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan Nasional yang meningkatkan Keimanan dan
Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian ada kewajiban membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas.
Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan.
Pendidikan ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi.
Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada.
Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Generasi penerus harus taat hukum.
Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga pendidikan (madrasah), masyarakat lingkungan, keluarga dan rumah tangga.
Memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif.
Memperkaya warisan budaya dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti.
Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut.
Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama.
Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.
Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu.
Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis.
MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS
Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas "gotong royong", berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta'awunitas.
Beberapa model dapat dikembangkan.
Pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan.

Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur.
“Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”.
Intensif menjauhi kehidupan materialistis, sebagai upaya menghadapi tantangan global. “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari.
Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.
Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat,
1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup ;
a. keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna,
b. keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan
c. kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman).
2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku;
a. Benar, jujur, menepati janji dan amanah.
b. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan,
c. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan,
d. Lapang dada – hilm --, pemaaf dan toleransi.
e. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak.

3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi,
3.1. Sikap Mental,
a. Cerdas, pintar, menguasai spesialisasi (takhassus),
b. Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih, bijak.
c. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat.
3.2. Sifat Kejiwaan,
a. emosi terkendali, optimis hidup, harap kepada Allah,
b. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat.
c. Lemah lembut, baik dalam pergaulan dengan masyarakat.
3.3. Sifat Fisik,
a. mencakup sehat tubuh,
b. berpembawaan menarik, bersih,
c. rapi (kemas) dan menyejukkan.
Senarai panjang menerangkan sikap pendidik berkelakuan baik, penyayang dan penyabar, berdisiplin baik, adil menerapkan aturan.
Mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah.
Murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup;
1) Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah istiqamah, beramal soleh dengan khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab.
2) Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri sendiri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara.
3) Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia.
4) Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah dengan amanah.
5) Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga-lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas.
6) Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari mencemarkan sejawat dan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social karena Allah.
7) Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak mengabaikan kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga syari’at Allah.
8) Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.
KESIMPULANNYA,
1. Ruh pendidikan madrasah afalah aqidah tauhid dan akhlaqul karimah. Pemetaannya akan berhasil di lapangan pendidikan dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya. Perlu digalang saling pengertian, koordinasi sesame, mempertajam faktor-faktor pendukung, membuka pintu dialog persaudaraan.
2. Ukuran madrasah berkualitas adalah kemampuan menampilkan nilai-nilai Al-Qur'an dengan gerak amal nyata yang terus menerus, dibuktikan dalam seluruh aktivitas kehidupan, dengan kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, mengajak (da'wah), merapatkan potensi barisan dalam mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama, sehingga berbuah pengamalan agama yang mendunia.
3. Setiap generasi Muslim yang ditempa di Madrasah mampu mengamalkan nilai-nilai Al Qur'an, dan wajib mengemban missi yang berat dan mulia, yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang harus selamanya dijaga menjadi ruh dari pembinaan madrasah.

4. Pembinaan Madrasah berkualitas dan mandiri berkehendak kepada gerak yang kontinyu, utuh dan terprogram. Hasilnya tidak mungkin diraih dengan kerja sambilan. Karena buah yang dipetik adalah sesuai dengan bibit yang ditanam, sesuai natuur-wet (sunnatullah, = undang-undang alami).
5. Madrasah adalah perangkat seutuhnya menuju kepada kemajuan. Di tengah tantangan berjibun ini, kerjakan sekarang mana yang dapat, mulailah dengan apa yang ada, karena yang ada itu sebenarnya sudah amat cukup untuk memulai. Tumbuhkan kesadaran keumatan yang kolektif. Setiap Muslim harus memulai melakukan perbaikan (ishlah) di bidang Da'wah dan Pendidikan. Kerja ini tidak akan pernah berhenti, dan akan berkembang terus sesuai dengan variasi zaman yang selalu berubah. Tujuan harus tetap menuju redha Allah. Inilah ruhnya Madrasah.
Wabillahitaufiq wal hidayah,
Padang, 25 Jumadil Akhir 1429 H / 29 Juni 2008 M.
Rabu, 18 Juni 2008
Kamis, 22 Mei 2008
Sabar Menerima Ujian, Menangani Musibah Gempa di Mentawai September 2007.
SABAR MENERIMA UJIAN DARI ALLAH SWT
Oleh:H.Mas'oed Abidin.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan tuntunan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya : "Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Namun gembirakanlah orang orang yang shabar. Yaitu orang orang yang bila di timpa malapetaka (musibah) diucapkannya "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Merekalah orang orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang orang yang mendapat petunjuk" (QS.2,Al Baqarah,ayat 155 157).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menetapkan satu ketentuan yang amat pasti di dalam kehidupan manusia yakni keyakinan akan adanya musibah di samping nikmat, siang sesudah malam, juga rugi di samping laba, sakit dan senang, bahkan hidup dan mati, adalah satu sunnatullah yang pasti dilalui secara bergantian, oleh setiap makhlu hidup.

Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan supaya manusia selalu menjaga kesehatan sebelum sakit datang, supaya senantiasa berhati hati sewaktu kaya karena miskin bias datang mendera, supaya selalu pula berhati hati di kala hidup masih ditempuh sebelum mati datang menjelang, dan juga agar selalu berhati hati di masa muda sebelum tua datang menghadang.
Begitulah bimbingan Agama Islam, yang pada hakekatnya menanamkan satu sikap hidup yang positif, yaitu "kehati hatian", atau dalam istilah di Minangkabau ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, ingek-ingek nan ka pai, agak-agak din an ka tingga.
Maka, setiap insan Muslim diajarkan hidup di dalam sikap optimistis yang tinggi, selalu menjaga diri, senantiasa berbuat baik selalu, karena sesudah hari ini, aka nada hari esok.
Inilah ajaran agama yang haq.

Musibah adalah ujian.
Di dalam pandangan agama Islam, hidup ini selalu mempunyai padanannya, kembar dan selalu bergandengan.
Di dalam musibah terkandung makna yang dalam artinya.
Di antaranya mengingatkan manusia, bahwa dirinya berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, sebagai inti dari ajaran tauhid.
Musibah, tidak selamanya bernilai azab.
Adakalanya hanya sebatas ujian belaka.
Di balik ujian, tersedia yang lebih baik dari sebelumnya.
Matematika seperti ini kadang kala tidak terangkat oleh bingkai rasionil semata.
Namun berada di dalam 'wilayah' keyakinan, sebagaimana diingatkan oleh wahyu Allah SWT, 'Asaa an takrahu syai an wa huwa khairun lakum, wa 'asaa an tuhibbu syai an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun.
Artinya, boleh jadi, engkau membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu (di balik sesuatu yang engkau bendi itu), dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (mungkin di balik yang disenangi, terdapat sesuatu yang sangat dibenci).
Dan Allah semata yang Maha Tahu, sedang engkau tidak mengetahui (mengenai rahasia di balik semua peristiwa).
Begitulah bimbingan wahyu Al Quran pada Surah Al Baqarah. (QS. 2 : 216).

Barang-barang sumbangan dan tenda dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) PT. Semen Padang yang di kirim ke Mentawai sebagai bantuan untuk meringankan penderitaan umat muslim di Mentawai yang mendapat cobaan gempa bumi bulan September 2007 yang lalu.

Bantuan itu dibawa oleh Saudara Zulkifli TS, Koordinator Da'i di Sipora Mentawai.
Musibah atau cobaan dalam kehidupan, sebenarnya mengandung ajakan untuk melakukan suatu koreksian (introspeksi).
Bila pada masa sebelumnya terlakukan suatu kelalaian, maka sesudah itu harus tumbuh sikap kesungguhan untuk memperbaiki situasi kearah yang lebih baik. Dan bila pada masa masa sebelumnya yang tersua senyatanya hanya kebaikan, maka ada kewajiban meningkatkan kebaikan itu menjadi lebih sempurna.
Sehingga dengan setiap kali datangnya musibah (ujian) manusia senantiasa meningkat taraf kedudukannya kepada suatu tingkat yang lebih tinggi.
Cobaan-cobaan tidak semestinya menjadikan manusia berputus asa.
Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri.
Kepercayaan diri akan lenyap di kala manusia melupakan Tuhan dan membelakangi ajaran agamanya.
Sayangi umat binaan
Keberhasilan dakwah banyak ditentukan oleh indahnya hubungan sesama di dalam pergaulan sehari hari.
Du'aat (juru dakwah) di lapangan medan dakwah tidak boleh menyendiri, apalagi tidak mau menyayangi masyarakat yang didakwahinya.
Satu keberhasilan du'aat ditentukan oleh kesediaannya menerima dan menghormati jamaah dikelilingnya dalam rangkaian dakwah ila Allah.
Du'at (juru dakwah) adalah pengayom, dan panutan.
Tempat bertanya, dan tempat mengadukan masaalah pelik yang tak mungkin dapat diselesaikan oleh jamaahnya secara sendiri sendiri.
Sikapnya dalam memuliakan jamaahnya, selalu akan dijadikan ukuran akhlak para du'aat.

Seorang juru dakwah semestinya merasa senang menerima seseorang yang memasuki arena dakwahnya.
Dia tidak boleh menolak sesiapa yang mengharapkan bantuannya.
Dia harus selalu tanggap dengan kesulitan orang lain.
Seorang du'aat semestinya memiliki dorongan kuat untuk berbuat lebih banyak untuk orang lain (jamaah bi¬naannya), dalam batas batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati.
Sesuai dengan batas kemampuan yang dimilikinya, sekecil apapun, akan bermakna dalam menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi umat yang dibinanya.
Jika tidak mampu memberikan materi, maka senyum dengan penuh perhatian merupakan satu pemberian yang bernilai besar, begitulah gambaran jelas akhlaq al Qurani.
Dermawan.
Al Quranul Karim menceritakan suatu perangai mulia perlu dipunyai juru dakwah untuk menempati posisi pelanjut tugas tugas risalah dinul haq, sebagai dicontohkan oleh Ibrahim AS yang didatangi tujuh pemuda untuk menguji kedermawanannya.
Tujuh pemuda ini sama sekali belum di kenal oleh Ibrahim AS.
Sungguhpun begitu, ia menerimanya dengan senanghati tanpa kecurigaan, yang diperlihat¬kan pada sikap yang tulus dalam memuliakan tamunya. Ibrahim AS. memiliki kebiasaan setiap tamunya yang datang tidak akan dilepas sebelum mereka disuguhi hidangan menurut kemampuannya, sebagai penghormatan dari "tuan rumah".
Pemuda pemuda yang senyatanya bukan tamu sembarangan ini menolak jamuan tuan rumahnya dengan halus, karena sesungguhnya mereka bukanlah manusia biasa yang memerlukan makan dan minum.
Mereka adalah tujuh malaikat terhor¬mat yang sengaja diutus Allah menguji kedermawanan Ibrahim seba¬gai juru dakwah dijalan Allah.
Rangkaian kisah indah ini diu¬langkan berbentuk wahyu kepada Nabi Muhamad SAW dalam Al Quranul Majid, sehingga menjadi salah satu bentuk dari "Akhlaq al Qur'a¬ni".
Dahulukan kepentingan umat
Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia.
Kehormatan seorang du'aat akan diuji dalam sikap ini.
Perhatian terhadap kaum kerabat (umat banyak), amat tinggi ni¬lainya.
Mementingkan urusan pribadi bukan sikap terpuji seorang du'at.


Bila manusia banyak telah terpuruk mengurus diri sendiri dan tidak peduli dengan keperluan orang lain (lingkungannya), tunggulah bencana akan datang timpa bertimpa. Medan dakwah akan jadi sempit.
Melupakan kepentingan orang banyak sangat dicela dan dinilai aniaya (dhalim) dalam ajaran Islam.
"Dzurriyat" atau generasi yang akan menyandang darjah pimpinan dan panutan tidak pernah seseorang yang bersikap dhalim (aniaya).
Ibadah sesungguhnya berperan menghapuskan kezaliman dalam diri seseorang.
Ibadah akan menumbuhkan sikap senang melaksanakan perintah Allah dan membuahkan perangai "menyayangi orang lain sebagai mengasihi diri sendiri".
Nabi Muhammad SAW mengingatkan tugas risalahnaya supaya berperilaku panutan dengan akhlaq Al Qur'ani.
"innama bu'ist tu li utammi makarimul akhlaaq" artinya, "aku diutus menyempurnakan akhlak yang mulia".
Allah mencontohkan dalam Firman Nya;
"Sungguh Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebe¬naran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali kali bukanlah dia termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan).(Dia terma¬suk) yang mensyukuri nikmat nikmat Allah. Allah telah memilih dan menunjukinya kepada jalan yang lurus"(QS.16,An Nahl,ayat 120 121).
Di antara perangai mulia (millah) Nabi Ibrahim AS, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama keluarga dan masyarakat , pandai memilih tindakan yang tidak merugikan orang lain, dan senantiasa memimipin ummat ke jalan yang benar.
Memupuk sikap mulia ini hanya dengan selalu "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah", dalam menerapkan akhlaq al Qur'ani.
Mudah mudahan kita semua senantiasa berada dalam lindungan Rahmat dan Inayah Nya. Amin.
Jauhi SIKAP TERCELA
Rasulullah SAW selalu menganjurkan kepada setiap penganut Islam untuk menjauhi delapan sikap tercela yang manakala ada bisa menyebabkan tampilnya bencana, baik dalam hubungan seorang ataupun masyarakat dan negara.
Delapan sikap yang mesti di jauhi itu adalah ;
1.Selalu merasa sedih dan kecewa, yang senantiasa menyisakan sikap putus asa dan akibatnya menyerahkan segala sesuatu tanpa berusaha.
2. Perasaan gelisah, seakan selalu dikejar bayang-bayang.
3. Lemah, baik fisik (jasad), perasaan (kalbu) ataupun akal fikiran, yang berujung dengan menjadikan diri siap untuk di tindas orang lain,
4. Malas, sehingga tertutupnya pintu keberhasilan.
5. Sikap pengecut, yang menghambat diri untuk berusaha secara sungguh-sungguh.
6. Bakhil, yang akibatnya bisa tidak menghiraukan keadaan keliling, hapusnya solidaritas, hilangnya kepedulian. Sikap bakhil bisa pula berdampak kepada pengejaran kesenangan (harta) duniawiyah tanpa menghiraukan kepentingan orang lain (individualistis),
7. Selalu dalam cengkeraman hutang, yang berakibat kurangnya ukuran kepantasan dan kepatutan, atau tak seukuran bayang-bayang dengan badan.
8. Berada dalam penindasan orang lain, sebagai konsekwensi logis dari ketujuh sikap tercela sebelumnya.
Bila kita meneliti dan memahami langkah yang telah kita tempuh selama ini, setidaknya dalam waktu tigapuluh dua tahun masa yang telah berlalu, maka sesungguhnya kedelapan sikap tercela ini telah menghimpit bangsa ini melalui penerapan cara-cara amat sistimatik seakan dipaksanakan harus berlaku sejak dari kekuasaan atas hingga lapis terbawah.

Bangsa yang besar ini menjadi sangat kecil tatkala penipuan dalam slogan demi pembangunan dibenarkan penipuan sebagai suatu keharusan, dan penindasan hak-hak masyarakat dianggap sebagai suatu kewajaran.
Nilai-nilai kepatuhan ditampilkan dalam bentuk memutar-balikan perintah menjadi pembenaran tindakan dalam disiplin birokrasi.
Kepatuhan kepada atasan bahkan menduduki posisi tertinggi melebihi ketaatan kepada Allah SWT. Semuanya merupakan sebahagian bukti dari sikap lemah dan putus asa.
Masyarakat bertumbuh menjadi pengecut, harus n’rimo apa adanya, tanpa keinginan untuk membantah, dikerangkeng pada perangai Asal Bapak Senang. Sebetulnya, ABS perlu, bila artinya adalah “Asal Bangsa ini Sejahtera”.
Menjauhi kedelapan perangai ini menjadi suatu kewajiban asasi dalam hidup manusia sebagai “hamba Allah”.
Dapat dilakukan dengan aktifitas amaliah yang terpadu terarah (sustained) secara pasti dengan penerapan disiplin beragama dalam kerangka “iman dan taqwa”. Upaya lainnya juga dengan cara melazimkan do’a (munajat) kepada Allah SWT pada setiap pagi dan petang.
Di antara do’a munajat yang di ajarkan Rasulullah SAW tersebut untuk kita amalkan adalah, ”Allahumma, wahai ALLAH, sungguh aku berlindung kepada MU dari pada rasa sedih atau kecewa (al-hammiy) dan gelisah (al-hazniy). Dan akupun berlindung kepada MU, wahai Allah, dari watak yang penuh dengan kelemahan (al-‘ajziy) serta sifat kemalasan (al-kasali). Dan, aku pun juga memohon kepada Engkau, wahai Allah, perlindungan dari sikap pengecut (al-jubniy) dan bakhil (al-bukhliy). Aku pun berselindung kepada MU, wahai Allah dari cengkeraman hutang (ghalabatid-dayni) dan penindasan orang lain (qahriy ar-rijaal)”. (Do’a ma’tsur dari HR.Bukhari Muslim).
Di tengah bangsa kita mengalami masa ujian sekarang ini (chaos politik, ekonomi, sosial dan budaya), dan dirasakan adanya upaya pemaksaan dari pihak lain, diantaranya upaya menguasai/membeli Indonesia dengan label penyelematan ekonomi nasional, termasuk di dalamnya rencana penjualan BUMN, Gempa bumi dan berbagai bencana alam, kenaikan harga BBM dan semakin parahnya kehidupan rakyat miskin, maka sebaiknya do’a ini kembali dilazimkan membacanya setiap pagi dan sore.
Do’a munajat ini harus pula di iringi usaha sekuat tenaga dan secara bersama-sama menghilangkan sifat-sifat tercela ini dengan memulai dari diri sendiri, untuk mengerjakan apa yang bisa dan bermanfaat untuk orang banyak dengan modal (self-help) di keliling kita.
Modal besar itu, adalah kesepakatan, kerjasama, kesetia kawanan, seia-sekata (ukhuwwah), sumber daya (alam dan manusia) dalam suatu ikatan kebangsaan sebagai Rahmat Allah, serta selalu memohon pertolongan dari Allah SWT. Sebab, yang ada itu sebenarnya sudah teramat cukup untuk memulai. Semoga Allah selalu meredhai.***
JANGAN MENJADI ORANG ANIAYA
Di kala Nabi Ibrahim AS di uji oleh Allah (Subhanahu wata'ala), tentang ketabahan nya, kerelaan berkorban, keteguhan pendirian, sikapnya dalam memuliakan tetamu, berbuat baik sesama kerabat, dan kesiapannya dalam melaksanakan perintah Allah dan melepaskan ketergantungan kepada perintah materi (kebendaan), ternyata ia lulus dari ujian yang berat itu.
Ujian jiwa ini, secara beruntu dia alami, dan sungguh pun berat, dia berhasil melaluinya.
Ketabahannya terbukti, dikala ia dihadapkan kepada pilihan dibakar di dalam sebuah unggun api, Oleh Namrudz (Maharaja Nebucadnear) yang menguasai Mesopotamia. Atau kedudukan yang layak di sisi sang penguasa, manakala ia berkenan menggantikan perannya melaksanakan Dakwah Ilallah kepada Dakwah Ilalmaal (perjuangan mendapatkan harta).
Terbukti, Ibrahim A.S. lebih memilih menegakkan kebenaran dengan serba tipuan. Dia menang, dan imbalannya api unggun yang bergejolak membakar setiap kayu kering yang bersilang, tak mempan menyentuh sehelai rambut Ibrahim A.S sesuai dengan firman Allah, "wahai api, din¬ginlah dan selamatkan tubuh Ibrahim dari gejolakmu yang membakar".
Kerelaannya berkorban, tak tertandingi hingga kini. Anak kesayangannya satu satunya (Ismail, Alahisalaam), rela di korbankan, untuk disembelih untuk memenuhi tuntu¬tutan atau melaksanakan perintah Allah Yang Maha Rahman. Akhirnya pengorbanan diterima, anaknya tidak jadi menemui korban penyembelihan. Tetapi diganti dengan ternak sembi¬lahan yang besar, sebagai jawaban kerelaan yang tulus mengikuti perintah Allah.
Peristiwa ini dinukilkan oleh Allah di dalam firman Nya, "akhir, kerelaan Ibrahim menyahuti panggilan kami, berkorban karena mengharapkan kerelaan Kami, diganti dengan seekor ternak sembelihan yang sempuna besarnya".
Keteguhan pendiriannya, tidak pula diragukan. Ayahnya (Azar), yang selalu berpegang pada tradisi lama (menyembah berhala), diajaknya supaya meninggalkan tradisi itu. Kebiasaan memohon kepada "yang bukan Tuhan" itu, merupakan watak yang tidak pantas dimiliki oleh manusia yang bera¬kal. Padahal, manusia itu sendiri ada, dan ditengah alam ini, justru karena "rahmat" dan "rahim" dari Allah (sang Khalik).
Penghambaan kepada materi, menyebabkan lahirnya sesuatu bencana.
Materi adalah sesuatu rahmat dari Allah.
Karena itu, seharusnya materi itu dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran bagi manusia sekelilingnya.
Benda hanya alat.
Bukan tujuan, apalagi sesuatu sembahan yang berakibat rela diperbudak oleh materi. Mempertahankan materi (benda) tidak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
Kesadaran seperti ini (yang amat sesuai dengan fithrah manusia), selalu disampaikan oleh Ibrahim kepada ayahnya (Azar).
Namun selalu ditolak.
Akhirnya, Ibrahim memilih berpisah dari keyakinan "tradisional bapaknya yang salah pilih itu.
Namun itu tetap berkata, sebagaimana diulangkan cerita oleh Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) dalam Firman Nya, "Ibrahim berkata kepada ayahnya, Selamt tinggal (wahai ayah, dalam keyakinan tradisional ayah yang tak bisa dirobah lagi, nanti akan selalu memohonkan keampunan (untuk ayah) kepada Tuhan ku karena sesungguhnya Tuhan ku masih sayang kepada ku". (Al Qur'an, S. 18, ayat 47).
Sikapnya dalam memuliakan tetamu, juga menjadikan pujian.
Dia tidak pernah menolak tamu yang diharapkan bantuannya.
Dia selalu tanggap dengan kesulitan orang lain.
Bahkan dia lebih senang berbuat untuk kesenangan orang lain, dalam batas batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati.
Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia. Walaupun dia sudah dipuji dengan segala kehormatan, dan diberi gelar darjah "Khalilul lah, serta mendapatkan kehormatan, dan bagai "pimpinan" bagi ummat manusia, dia masih memohonkan kepada Allah, kiranya peng¬hargaan sedemikian tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.

Ibrahim ('alaihi salam), masih mempersoalkan "bagai¬mana halnya dengan (kaum kerabat) anak keturunanku.
Memperhatikan kaum kerabat, lebih tinggi nilainya, daripada hanya sekedar memperjuangkan kemenangan sendiri, atau hanya bertolak kepada kepentingan pribadi. Jika manusia secara umum telah terperosok kepada hanya untuk kepentin¬gan sendiri sendiri, tanpa mengindahkan kepentingan orang banyak, maka tentulah bencana akan datang tindih bertindih.
Orang yang hanya suka mempertahankan kepentingan individu, tanpa mempertimbangkan orang banyak, tepat diberikan cap sebagai orang aniaya (dhalim) menurut istilah dari Allah (Yang Maha Rahman).
Dia juga sosok ummat yang pandai berterima kasih, serta memelihara ni'mat Allah. Merupakan seseorang yang terpilih tindakannya dan terpuji perangainya dan selalu mendapatkan bimbingan dan selalu pula berusaha memimpin kejalan yang benar dan lurus. Karena itu, dia mendapatkan kehidupan dunianya aman tentram.
Akhirnya, di akhirat, (pada kehidupan yang menjadi tujuan setiap makhluk yang hidup di dunia sekarang ini), dia akan kami tempatkan bersama orang orang shalih yang terpilih.
Kepada Nabi Muhammad SAW diwahyukan supaya mengikuti jejak langkah perangai mulai yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama anggota, keluarga dan masyarakat, pandai pandai memilih tindakan yang tidak sampai merugi¬kan orang lain, selalu berusaha memimipin ummat ke jalan yang benar, dan diatas segalanya "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah".
Benteng agama yang dianugerahkan untuk setiap manusia di dalam menghadapi musibah adalah sabar, tegar dan tabah mengiringi ikhtiar yang lebih baik dalam kemasan bekerja dan berdo'a.
Kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran ajaran Nya, dan menjauhi setiap larangan Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya.
Semoga semua yang ditimpa musibah saat ini, (kematian pemimpin, kekeringan, tiada hujan, kabut dan asap, kecelakaan pesawat, kelaparan, kebakaran, banjir dan musnahnya ikan di karamba), dapat mengambil iktibar yang mendalam dari bentuk cobaan Allah ini, supaya kita bersegera kembali kepada Nya, dan ber istighfar memohon ampun atas segala kesalahan, baik yang di ketahui ataupun yang tidak, dan melazimkan saling memaafkan.
Kembalilah beribadah kepada Allah, hidupkan fikiran dan gerakkan tenaga, cari apa yang di redhai Allah, supaya Allah senantiasa meredhai usaha usaha kita. Sekali kali jangan berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH.
Begitulah hendaknya, Amin.
Oleh:H.Mas'oed Abidin.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan tuntunan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya : "Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Namun gembirakanlah orang orang yang shabar. Yaitu orang orang yang bila di timpa malapetaka (musibah) diucapkannya "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Merekalah orang orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang orang yang mendapat petunjuk" (QS.2,Al Baqarah,ayat 155 157).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menetapkan satu ketentuan yang amat pasti di dalam kehidupan manusia yakni keyakinan akan adanya musibah di samping nikmat, siang sesudah malam, juga rugi di samping laba, sakit dan senang, bahkan hidup dan mati, adalah satu sunnatullah yang pasti dilalui secara bergantian, oleh setiap makhlu hidup.
Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan supaya manusia selalu menjaga kesehatan sebelum sakit datang, supaya senantiasa berhati hati sewaktu kaya karena miskin bias datang mendera, supaya selalu pula berhati hati di kala hidup masih ditempuh sebelum mati datang menjelang, dan juga agar selalu berhati hati di masa muda sebelum tua datang menghadang.
Begitulah bimbingan Agama Islam, yang pada hakekatnya menanamkan satu sikap hidup yang positif, yaitu "kehati hatian", atau dalam istilah di Minangkabau ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, ingek-ingek nan ka pai, agak-agak din an ka tingga.
Maka, setiap insan Muslim diajarkan hidup di dalam sikap optimistis yang tinggi, selalu menjaga diri, senantiasa berbuat baik selalu, karena sesudah hari ini, aka nada hari esok.
Inilah ajaran agama yang haq.
Musibah adalah ujian.
Di dalam pandangan agama Islam, hidup ini selalu mempunyai padanannya, kembar dan selalu bergandengan.
Di dalam musibah terkandung makna yang dalam artinya.
Di antaranya mengingatkan manusia, bahwa dirinya berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, sebagai inti dari ajaran tauhid.
Musibah, tidak selamanya bernilai azab.
Adakalanya hanya sebatas ujian belaka.
Di balik ujian, tersedia yang lebih baik dari sebelumnya.
Matematika seperti ini kadang kala tidak terangkat oleh bingkai rasionil semata.
Namun berada di dalam 'wilayah' keyakinan, sebagaimana diingatkan oleh wahyu Allah SWT, 'Asaa an takrahu syai an wa huwa khairun lakum, wa 'asaa an tuhibbu syai an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun.
Artinya, boleh jadi, engkau membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu (di balik sesuatu yang engkau bendi itu), dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (mungkin di balik yang disenangi, terdapat sesuatu yang sangat dibenci).
Dan Allah semata yang Maha Tahu, sedang engkau tidak mengetahui (mengenai rahasia di balik semua peristiwa).
Begitulah bimbingan wahyu Al Quran pada Surah Al Baqarah. (QS. 2 : 216).
Barang-barang sumbangan dan tenda dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) PT. Semen Padang yang di kirim ke Mentawai sebagai bantuan untuk meringankan penderitaan umat muslim di Mentawai yang mendapat cobaan gempa bumi bulan September 2007 yang lalu.
Bantuan itu dibawa oleh Saudara Zulkifli TS, Koordinator Da'i di Sipora Mentawai.
Musibah atau cobaan dalam kehidupan, sebenarnya mengandung ajakan untuk melakukan suatu koreksian (introspeksi).
Bila pada masa sebelumnya terlakukan suatu kelalaian, maka sesudah itu harus tumbuh sikap kesungguhan untuk memperbaiki situasi kearah yang lebih baik. Dan bila pada masa masa sebelumnya yang tersua senyatanya hanya kebaikan, maka ada kewajiban meningkatkan kebaikan itu menjadi lebih sempurna.
Sehingga dengan setiap kali datangnya musibah (ujian) manusia senantiasa meningkat taraf kedudukannya kepada suatu tingkat yang lebih tinggi.
Cobaan-cobaan tidak semestinya menjadikan manusia berputus asa.
Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri.
Kepercayaan diri akan lenyap di kala manusia melupakan Tuhan dan membelakangi ajaran agamanya.
Sayangi umat binaan
Keberhasilan dakwah banyak ditentukan oleh indahnya hubungan sesama di dalam pergaulan sehari hari.
Du'aat (juru dakwah) di lapangan medan dakwah tidak boleh menyendiri, apalagi tidak mau menyayangi masyarakat yang didakwahinya.
Satu keberhasilan du'aat ditentukan oleh kesediaannya menerima dan menghormati jamaah dikelilingnya dalam rangkaian dakwah ila Allah.
Du'at (juru dakwah) adalah pengayom, dan panutan.
Tempat bertanya, dan tempat mengadukan masaalah pelik yang tak mungkin dapat diselesaikan oleh jamaahnya secara sendiri sendiri.
Sikapnya dalam memuliakan jamaahnya, selalu akan dijadikan ukuran akhlak para du'aat.
Seorang juru dakwah semestinya merasa senang menerima seseorang yang memasuki arena dakwahnya.
Dia tidak boleh menolak sesiapa yang mengharapkan bantuannya.
Dia harus selalu tanggap dengan kesulitan orang lain.
Seorang du'aat semestinya memiliki dorongan kuat untuk berbuat lebih banyak untuk orang lain (jamaah bi¬naannya), dalam batas batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati.
Sesuai dengan batas kemampuan yang dimilikinya, sekecil apapun, akan bermakna dalam menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi umat yang dibinanya.
Jika tidak mampu memberikan materi, maka senyum dengan penuh perhatian merupakan satu pemberian yang bernilai besar, begitulah gambaran jelas akhlaq al Qurani.
Dermawan.
Al Quranul Karim menceritakan suatu perangai mulia perlu dipunyai juru dakwah untuk menempati posisi pelanjut tugas tugas risalah dinul haq, sebagai dicontohkan oleh Ibrahim AS yang didatangi tujuh pemuda untuk menguji kedermawanannya.
Tujuh pemuda ini sama sekali belum di kenal oleh Ibrahim AS.
Sungguhpun begitu, ia menerimanya dengan senanghati tanpa kecurigaan, yang diperlihat¬kan pada sikap yang tulus dalam memuliakan tamunya. Ibrahim AS. memiliki kebiasaan setiap tamunya yang datang tidak akan dilepas sebelum mereka disuguhi hidangan menurut kemampuannya, sebagai penghormatan dari "tuan rumah".
Pemuda pemuda yang senyatanya bukan tamu sembarangan ini menolak jamuan tuan rumahnya dengan halus, karena sesungguhnya mereka bukanlah manusia biasa yang memerlukan makan dan minum.
Mereka adalah tujuh malaikat terhor¬mat yang sengaja diutus Allah menguji kedermawanan Ibrahim seba¬gai juru dakwah dijalan Allah.
Rangkaian kisah indah ini diu¬langkan berbentuk wahyu kepada Nabi Muhamad SAW dalam Al Quranul Majid, sehingga menjadi salah satu bentuk dari "Akhlaq al Qur'a¬ni".
Dahulukan kepentingan umat
Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia.
Kehormatan seorang du'aat akan diuji dalam sikap ini.
Perhatian terhadap kaum kerabat (umat banyak), amat tinggi ni¬lainya.
Mementingkan urusan pribadi bukan sikap terpuji seorang du'at.
Bila manusia banyak telah terpuruk mengurus diri sendiri dan tidak peduli dengan keperluan orang lain (lingkungannya), tunggulah bencana akan datang timpa bertimpa. Medan dakwah akan jadi sempit.
Melupakan kepentingan orang banyak sangat dicela dan dinilai aniaya (dhalim) dalam ajaran Islam.
"Dzurriyat" atau generasi yang akan menyandang darjah pimpinan dan panutan tidak pernah seseorang yang bersikap dhalim (aniaya).
Ibadah sesungguhnya berperan menghapuskan kezaliman dalam diri seseorang.
Ibadah akan menumbuhkan sikap senang melaksanakan perintah Allah dan membuahkan perangai "menyayangi orang lain sebagai mengasihi diri sendiri".
Nabi Muhammad SAW mengingatkan tugas risalahnaya supaya berperilaku panutan dengan akhlaq Al Qur'ani.
"innama bu'ist tu li utammi makarimul akhlaaq" artinya, "aku diutus menyempurnakan akhlak yang mulia".
Allah mencontohkan dalam Firman Nya;
"Sungguh Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebe¬naran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali kali bukanlah dia termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan).(Dia terma¬suk) yang mensyukuri nikmat nikmat Allah. Allah telah memilih dan menunjukinya kepada jalan yang lurus"(QS.16,An Nahl,ayat 120 121).
Di antara perangai mulia (millah) Nabi Ibrahim AS, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama keluarga dan masyarakat , pandai memilih tindakan yang tidak merugikan orang lain, dan senantiasa memimipin ummat ke jalan yang benar.
Memupuk sikap mulia ini hanya dengan selalu "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah", dalam menerapkan akhlaq al Qur'ani.
Mudah mudahan kita semua senantiasa berada dalam lindungan Rahmat dan Inayah Nya. Amin.
Jauhi SIKAP TERCELA
Rasulullah SAW selalu menganjurkan kepada setiap penganut Islam untuk menjauhi delapan sikap tercela yang manakala ada bisa menyebabkan tampilnya bencana, baik dalam hubungan seorang ataupun masyarakat dan negara.
Delapan sikap yang mesti di jauhi itu adalah ;
1.Selalu merasa sedih dan kecewa, yang senantiasa menyisakan sikap putus asa dan akibatnya menyerahkan segala sesuatu tanpa berusaha.
2. Perasaan gelisah, seakan selalu dikejar bayang-bayang.
3. Lemah, baik fisik (jasad), perasaan (kalbu) ataupun akal fikiran, yang berujung dengan menjadikan diri siap untuk di tindas orang lain,
4. Malas, sehingga tertutupnya pintu keberhasilan.
5. Sikap pengecut, yang menghambat diri untuk berusaha secara sungguh-sungguh.
6. Bakhil, yang akibatnya bisa tidak menghiraukan keadaan keliling, hapusnya solidaritas, hilangnya kepedulian. Sikap bakhil bisa pula berdampak kepada pengejaran kesenangan (harta) duniawiyah tanpa menghiraukan kepentingan orang lain (individualistis),
7. Selalu dalam cengkeraman hutang, yang berakibat kurangnya ukuran kepantasan dan kepatutan, atau tak seukuran bayang-bayang dengan badan.
8. Berada dalam penindasan orang lain, sebagai konsekwensi logis dari ketujuh sikap tercela sebelumnya.
Bila kita meneliti dan memahami langkah yang telah kita tempuh selama ini, setidaknya dalam waktu tigapuluh dua tahun masa yang telah berlalu, maka sesungguhnya kedelapan sikap tercela ini telah menghimpit bangsa ini melalui penerapan cara-cara amat sistimatik seakan dipaksanakan harus berlaku sejak dari kekuasaan atas hingga lapis terbawah.
Bangsa yang besar ini menjadi sangat kecil tatkala penipuan dalam slogan demi pembangunan dibenarkan penipuan sebagai suatu keharusan, dan penindasan hak-hak masyarakat dianggap sebagai suatu kewajaran.
Nilai-nilai kepatuhan ditampilkan dalam bentuk memutar-balikan perintah menjadi pembenaran tindakan dalam disiplin birokrasi.
Kepatuhan kepada atasan bahkan menduduki posisi tertinggi melebihi ketaatan kepada Allah SWT. Semuanya merupakan sebahagian bukti dari sikap lemah dan putus asa.
Masyarakat bertumbuh menjadi pengecut, harus n’rimo apa adanya, tanpa keinginan untuk membantah, dikerangkeng pada perangai Asal Bapak Senang. Sebetulnya, ABS perlu, bila artinya adalah “Asal Bangsa ini Sejahtera”.
Menjauhi kedelapan perangai ini menjadi suatu kewajiban asasi dalam hidup manusia sebagai “hamba Allah”.
Dapat dilakukan dengan aktifitas amaliah yang terpadu terarah (sustained) secara pasti dengan penerapan disiplin beragama dalam kerangka “iman dan taqwa”. Upaya lainnya juga dengan cara melazimkan do’a (munajat) kepada Allah SWT pada setiap pagi dan petang.
Di antara do’a munajat yang di ajarkan Rasulullah SAW tersebut untuk kita amalkan adalah, ”Allahumma, wahai ALLAH, sungguh aku berlindung kepada MU dari pada rasa sedih atau kecewa (al-hammiy) dan gelisah (al-hazniy). Dan akupun berlindung kepada MU, wahai Allah, dari watak yang penuh dengan kelemahan (al-‘ajziy) serta sifat kemalasan (al-kasali). Dan, aku pun juga memohon kepada Engkau, wahai Allah, perlindungan dari sikap pengecut (al-jubniy) dan bakhil (al-bukhliy). Aku pun berselindung kepada MU, wahai Allah dari cengkeraman hutang (ghalabatid-dayni) dan penindasan orang lain (qahriy ar-rijaal)”. (Do’a ma’tsur dari HR.Bukhari Muslim).
Di tengah bangsa kita mengalami masa ujian sekarang ini (chaos politik, ekonomi, sosial dan budaya), dan dirasakan adanya upaya pemaksaan dari pihak lain, diantaranya upaya menguasai/membeli Indonesia dengan label penyelematan ekonomi nasional, termasuk di dalamnya rencana penjualan BUMN, Gempa bumi dan berbagai bencana alam, kenaikan harga BBM dan semakin parahnya kehidupan rakyat miskin, maka sebaiknya do’a ini kembali dilazimkan membacanya setiap pagi dan sore.
Do’a munajat ini harus pula di iringi usaha sekuat tenaga dan secara bersama-sama menghilangkan sifat-sifat tercela ini dengan memulai dari diri sendiri, untuk mengerjakan apa yang bisa dan bermanfaat untuk orang banyak dengan modal (self-help) di keliling kita.
Modal besar itu, adalah kesepakatan, kerjasama, kesetia kawanan, seia-sekata (ukhuwwah), sumber daya (alam dan manusia) dalam suatu ikatan kebangsaan sebagai Rahmat Allah, serta selalu memohon pertolongan dari Allah SWT. Sebab, yang ada itu sebenarnya sudah teramat cukup untuk memulai. Semoga Allah selalu meredhai.***
JANGAN MENJADI ORANG ANIAYA
Di kala Nabi Ibrahim AS di uji oleh Allah (Subhanahu wata'ala), tentang ketabahan nya, kerelaan berkorban, keteguhan pendirian, sikapnya dalam memuliakan tetamu, berbuat baik sesama kerabat, dan kesiapannya dalam melaksanakan perintah Allah dan melepaskan ketergantungan kepada perintah materi (kebendaan), ternyata ia lulus dari ujian yang berat itu.
Ujian jiwa ini, secara beruntu dia alami, dan sungguh pun berat, dia berhasil melaluinya.
Ketabahannya terbukti, dikala ia dihadapkan kepada pilihan dibakar di dalam sebuah unggun api, Oleh Namrudz (Maharaja Nebucadnear) yang menguasai Mesopotamia. Atau kedudukan yang layak di sisi sang penguasa, manakala ia berkenan menggantikan perannya melaksanakan Dakwah Ilallah kepada Dakwah Ilalmaal (perjuangan mendapatkan harta).
Terbukti, Ibrahim A.S. lebih memilih menegakkan kebenaran dengan serba tipuan. Dia menang, dan imbalannya api unggun yang bergejolak membakar setiap kayu kering yang bersilang, tak mempan menyentuh sehelai rambut Ibrahim A.S sesuai dengan firman Allah, "wahai api, din¬ginlah dan selamatkan tubuh Ibrahim dari gejolakmu yang membakar".
Kerelaannya berkorban, tak tertandingi hingga kini. Anak kesayangannya satu satunya (Ismail, Alahisalaam), rela di korbankan, untuk disembelih untuk memenuhi tuntu¬tutan atau melaksanakan perintah Allah Yang Maha Rahman. Akhirnya pengorbanan diterima, anaknya tidak jadi menemui korban penyembelihan. Tetapi diganti dengan ternak sembi¬lahan yang besar, sebagai jawaban kerelaan yang tulus mengikuti perintah Allah.
Peristiwa ini dinukilkan oleh Allah di dalam firman Nya, "akhir, kerelaan Ibrahim menyahuti panggilan kami, berkorban karena mengharapkan kerelaan Kami, diganti dengan seekor ternak sembelihan yang sempuna besarnya".
Keteguhan pendiriannya, tidak pula diragukan. Ayahnya (Azar), yang selalu berpegang pada tradisi lama (menyembah berhala), diajaknya supaya meninggalkan tradisi itu. Kebiasaan memohon kepada "yang bukan Tuhan" itu, merupakan watak yang tidak pantas dimiliki oleh manusia yang bera¬kal. Padahal, manusia itu sendiri ada, dan ditengah alam ini, justru karena "rahmat" dan "rahim" dari Allah (sang Khalik).
Penghambaan kepada materi, menyebabkan lahirnya sesuatu bencana.
Materi adalah sesuatu rahmat dari Allah.
Karena itu, seharusnya materi itu dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran bagi manusia sekelilingnya.
Benda hanya alat.
Bukan tujuan, apalagi sesuatu sembahan yang berakibat rela diperbudak oleh materi. Mempertahankan materi (benda) tidak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
Kesadaran seperti ini (yang amat sesuai dengan fithrah manusia), selalu disampaikan oleh Ibrahim kepada ayahnya (Azar).
Namun selalu ditolak.
Akhirnya, Ibrahim memilih berpisah dari keyakinan "tradisional bapaknya yang salah pilih itu.
Namun itu tetap berkata, sebagaimana diulangkan cerita oleh Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) dalam Firman Nya, "Ibrahim berkata kepada ayahnya, Selamt tinggal (wahai ayah, dalam keyakinan tradisional ayah yang tak bisa dirobah lagi, nanti akan selalu memohonkan keampunan (untuk ayah) kepada Tuhan ku karena sesungguhnya Tuhan ku masih sayang kepada ku". (Al Qur'an, S. 18, ayat 47).
Sikapnya dalam memuliakan tetamu, juga menjadikan pujian.
Dia tidak pernah menolak tamu yang diharapkan bantuannya.
Dia selalu tanggap dengan kesulitan orang lain.
Bahkan dia lebih senang berbuat untuk kesenangan orang lain, dalam batas batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati.
Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia. Walaupun dia sudah dipuji dengan segala kehormatan, dan diberi gelar darjah "Khalilul lah, serta mendapatkan kehormatan, dan bagai "pimpinan" bagi ummat manusia, dia masih memohonkan kepada Allah, kiranya peng¬hargaan sedemikian tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Ibrahim ('alaihi salam), masih mempersoalkan "bagai¬mana halnya dengan (kaum kerabat) anak keturunanku.
Memperhatikan kaum kerabat, lebih tinggi nilainya, daripada hanya sekedar memperjuangkan kemenangan sendiri, atau hanya bertolak kepada kepentingan pribadi. Jika manusia secara umum telah terperosok kepada hanya untuk kepentin¬gan sendiri sendiri, tanpa mengindahkan kepentingan orang banyak, maka tentulah bencana akan datang tindih bertindih.
Orang yang hanya suka mempertahankan kepentingan individu, tanpa mempertimbangkan orang banyak, tepat diberikan cap sebagai orang aniaya (dhalim) menurut istilah dari Allah (Yang Maha Rahman).
Dia juga sosok ummat yang pandai berterima kasih, serta memelihara ni'mat Allah. Merupakan seseorang yang terpilih tindakannya dan terpuji perangainya dan selalu mendapatkan bimbingan dan selalu pula berusaha memimpin kejalan yang benar dan lurus. Karena itu, dia mendapatkan kehidupan dunianya aman tentram.
Akhirnya, di akhirat, (pada kehidupan yang menjadi tujuan setiap makhluk yang hidup di dunia sekarang ini), dia akan kami tempatkan bersama orang orang shalih yang terpilih.
Kepada Nabi Muhammad SAW diwahyukan supaya mengikuti jejak langkah perangai mulai yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama anggota, keluarga dan masyarakat, pandai pandai memilih tindakan yang tidak sampai merugi¬kan orang lain, selalu berusaha memimipin ummat ke jalan yang benar, dan diatas segalanya "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah".
Benteng agama yang dianugerahkan untuk setiap manusia di dalam menghadapi musibah adalah sabar, tegar dan tabah mengiringi ikhtiar yang lebih baik dalam kemasan bekerja dan berdo'a.
Kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran ajaran Nya, dan menjauhi setiap larangan Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya.
Semoga semua yang ditimpa musibah saat ini, (kematian pemimpin, kekeringan, tiada hujan, kabut dan asap, kecelakaan pesawat, kelaparan, kebakaran, banjir dan musnahnya ikan di karamba), dapat mengambil iktibar yang mendalam dari bentuk cobaan Allah ini, supaya kita bersegera kembali kepada Nya, dan ber istighfar memohon ampun atas segala kesalahan, baik yang di ketahui ataupun yang tidak, dan melazimkan saling memaafkan.
Kembalilah beribadah kepada Allah, hidupkan fikiran dan gerakkan tenaga, cari apa yang di redhai Allah, supaya Allah senantiasa meredhai usaha usaha kita. Sekali kali jangan berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH.
Begitulah hendaknya, Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)








