Tampilkan postingan dengan label Bantulah Sesama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bantulah Sesama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

“Membentengi Akidah Umat” Tasyakur Nikmat

Perang adalah sebuah akibat dari negara yang meluapkan emosi dan harga diri. Namun perang juga mengukir sederatan kenangan dan kepiluan. Ranah Minang menjadi lengang. Para ulama, cerdik pandai, para pengusaha, bahkan pemuda pergi jauh merantau membawa perasaan galau. Nagari-nagari menjadi sepi. Sejumlah gedung madrasah, sekolah dan perguruan tinggi, ditinggalkan tanpa penghuni. Mereka yang masih bertahan memikul beban mental dalam berbagai bentuk tekanan. Anak nagari seakan kehilangan keberanian. Tak ada yang sanggup berbicara meski rumah-rumah mereka diambilalih dan diubah jadi asrama dan madrasah serta sekolah dikuasai tentara. Kenyataan itu membuat risau sejumlah tokoh Minang di rantau. Tak ada pilihan. Harga diri mesti dipulihkan. Nagari yang lengang mesti dibangun. Sekolah dan madrasah harus diberi gairah. Semangat mesti terangkat. Suara itulah yang berkumandang pertama kali dalam sebuah pertemuan para pemuka masyarakat Sumatera Barat yang sedang berkumpul di Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sekitar bulan Nopember 1961.


Mereka kemudian merumuskan langkah untuk membangun kembali kampung halaman, Sumatera Barat, yang terluka akibat perang saudara menentang Soekarno, tiga setengah tahun lamanya. Langkah-langkah itu antara lain adalah:
a. penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik rakyat dalam pengungsian yang kehilangan sumber nafkah, maupun mahasiswa dan pelajar yang terputus pelajarannya.
b. membangun kembali perumahan rakyat yang hangus terbakar
c. membuka sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan
d. mengobati luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu
e. membangun kembali sarana dan prasarana pendidikan agama yang telah hancur.

Menindaklanjuti gagasan itu, atas prakarsa Mohamad Natsir sejumlah tokoh Sumatera Barat bertemu di Medan, pada November 1961 itu juga, yang antara lain dihadiri oleh Brigjen A. Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor dan lainnya. Pertemuan tersebut telah membentuk satu pandangan yang sama, “untuk membangun kembali kampung halaman (Sumatera Barat)”. Waktu itu, disepakati jalan terpendek haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang yang ada di daerah, dan yang di perantauan. Langkah pertama, atas bantuan keluarga Bulan Bintang dan para perantauan di Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta, menghimpun bingkisan-bingkisan yang disebut mawaddah fil qurba. Antara lain berupa pakaian dan uang. Meski jumlahnya terbatas, bingkisan itu langsung diserahkan kepada keluarga korban perjuangan di beberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat, dengan dibekali surat pengantar oleh DR. Mohamad Natsir. Surat itu kemudian membuka simpul satu nagari dan nagari lain, satu kelompok dan kelompk berikutnya sehingga perjalan itu membuahkan ta'ziyah fil qurba.

Surat-surat Mohamad Natsir itu menjadi rangkaian wasiat atau taushyiyah yang memberikan garisan rinci kepada para ulama, pemuka adat dan kalangan cerdik pandai dalam menghimpun tenaga, dana dan pikiran untuk membangun kembali nagari. Berkat taushiyah itu, ternyata memang mampu menjalin kembali tali yang hampir putus sehingga dapat menelurkan amaliyah nyata. Perhatian utama diarahkan kepada rehabilitasi perasaan umat. Hasilnya menggembirakan. Antara si pemberi dan si penerima tercipta hubungan kekeluargaan dan keakraban. Perasaan itu terus meluas seiring berkembangnya semangat dan dukungan moril dan materil untuk membangun kampung halaman di kalangan perantau. Tapi tujuan utama dan lebih jauh adalah menumbuhkan rasa “percaya diri” (self confidence) melalui strategi yang menyatu yaitu “strategi harga diri”. Sasaran itu selain berat, juga penuh kendala. Sebab, secara psikologis, rakyat masih dihantui rasa takut. Rakyat bersikap sangat hati-hati. Dengan alasan keamanan dan keselamatan diri, mereka risih dan kaku meski tak bisu.

Seringkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya, sehingga sukar. Malah terasa mustahil dicapai. Namun dengan semangat juang terus bangkit didorong semboyan : Yang m u d a h sudah dikerjakan orang. Yang s u k a r kita kerjakan sekarang. Yang tak mungkin kita kerjakan besok. Kegiatan yang mudah itu antara lain, menggerakkan usaha kerajinan tangan (keterampilan) dan usaha rumah tangga (home industry). Misalnya, industri tikar pandan atau mendong dan pemeliharaan ulat sutra. Usaha itu dikembangkan melalui beberapa pelatihan dan pengenalan. Atau mengajak beberapa kelompok masyarakat belajar ke daerah penghasil industri rumah tangga, seperti ke Sukabumi dan Tasikmalaya. Lalu, sekitar tahun 1962 ada program lebih mendasar, yaitu : penyaluran tenaga mahasiswa dan pelajar, pembentukan perpustakaan mahasiswa di Padang, serta melatih kader di bidang industri sutra alam dan anyaman tikar mendong.


Setelah pelatihan dan pendidikan itu menunjukkan hasil nyata, di awal tahun 1963, beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing, menyebarluaskan keterampilan yang telah mereka miliki kepada orang-orang di kampung masing-masing. Ternyata, usaha itu, meski berat, namun dengan kebersamaan usaha besar berkembang sejalan dengan kemampuan dan keadaan di nagari masing-masing membuahkan hasil yang menggembirakan. Perhatian utama diarahkan kepada rehabilitasi perasaan umat. Disadari benar, ada puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan. Maka amal-amal nyata yang mulai digerakkan itu, mesti dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terampil tapi terpelanting tersebut. Tentu saja menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing. Para pemimpin umat senantiasa berusaha sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami waktu itu.

Dalam gerakan membangun kampung halaman itulah, Mohamad Natsir sebagai tokoh bangsa beberapa kali pulang ke Ranang Minang, setelah beliau, sejak tahun 1961, berada di dalam karantina politik Orde Lama. Pada tanggal 14 JUNI 1968, udara pagi cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, yang menjadi salah satu pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup. Setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman "Orde Lama", terkungkung. Ranah ini sudah lama menginginkan kebebasan, dari rasa tertekan dan hilangnya harga diri. Hari itu, baru dua tahun setelah "Orde Baru" dicanangkan di bawah kepemimpinan Soeharto. Pada awalnya Orde Baru lahir atas dukungan massa rakyat dan mahasiswa dengan TRITURA (TRI = TIGA TUNTUTAN RAKYAT). Sumatera Barat sudah lama mendambakan suasana baru, dengan nafas baru. Agar bangsa ini terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit di bawah kendali komunis PKI. Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi, tanggfal 14 Juni 1968. Di kala pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus, membawa di dalamnya Bapak DR. Mohamad Natsir dan Umi yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain dan Wali kota Padang Kolonel Maritim Akhirul Yahya.

Bapak Mohamad Natsir, ditunggu sebagai “pemimpin pulang” dengan kepala tegak untuk melanjutkan perjuangan dalam merangsang semangat umat yang tadinya telah hampir padam untuk membangun kampung halaman. Ranah Bundo ingin membangun kembali kampung halamannya. Beliau disambut dengan panggilan "orang tua kita". Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak Mohamad Natsir. Mendorong umat kembali memulai membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati. Perang bukan hanya mengangkat harga diri, tapi kadang juga membuat orang kehilangan nyali. Karena, perang membuat darah tertumpah, kematian yang mengenaskan dan kesengsaraan yang tak terlupakan.


Pemimpin Pulang
Empat cara pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan dibelenggu musuh untuk calon penghuni terungku, atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya. Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya. Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip . Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus. Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang. MOHAMAD NATSIR MEDAN DJIHAD, 24 AGUSTUS 1961 M/ MAULID 1381 H.

Di depan berbagai pertemuan beliau menyampaikan pikiran dan gagasan. Kalau tak pulang, beliau melayangkan surat-suratnya kepada karib seperjuangan di kampung. Banyak di antaranya yang digoreskan oleh pena Beliau, walaupun harus dikirimkan dari dalam karantina politik dari rezim "Orde Lama", baik dari Wisma Keagungan, di Jakarta, atau dari Batu, Malang. Dari perjalanan itu pula sejumlah pemikiran, pandangan dan nasihat diperoleh untuk kemudian jadi pegangan yang diterima sebagai wasiat pemimpin kepada umat dan bangsanya.

Hasil yang diraih pada umumnya adalah karena "faktor hubungan" keluarga dan famili antara yang "menerima" dan menampung. Terjalinnya hubungan rasa antara yang "memberi" kan tenaganya dengan yang menampung tenaga itu.

Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di daerah-daerah. Maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halaman negerinya itu. Merantau sama sekali bukan melarikan diri. Tidak pula menyingkir karena dendam atau benci. Merantau, hanyalah semata pengamalan dari kaedah pepatah di Ranah Bundo “Karatau madang dihulu, babuah babungo balun. Marantau buyuang dahulu, (di saat) di rumah (kampung halaman) belum paguno.” Walaupun segala akibat harus dilalui, tekad hanya satu. Berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada. Sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada tiap-tiap waktu itu. Seberat-berat apapun beban di pundak, niscaya akan dirasakan ringan, selama dipakaikan kaedah “berat sepikul ringan sejinjing”.

Usaha-usaha ke arah pembangunan negari berlandasan keumatan niscaya akan berhasil sepenuhnya, bila ada kesediaan untuk mengawali dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau guna menyalurkan bantuannya. Dalam pada itu, sebagian di antara Keluarga Qurba sudah ada juga yang bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat. Di antaranya banyak yang telah berhasil. Ada juga yang gagal karena kekurangan dana dan kurangnya dukungan serta besarnya resiko hidup dalam berbagai akibat yang harus dilalui. Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan. Karena psikologis masih diliputi oleh rasa takut. Kebanyakan, karena alasan untuk menjaga keamanan yang bersangkutan. Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil. Mendorong kembali kehidupan rakyat di kampung halaman, bukanlah tugas yang ringan. Menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan, tidak pula urusan kecil yang bisa dikerjakan sambil lalu . Kerja ini termasuk kerja berat.

Agendanya dengan memulainya dari menumbuhkan kepercayaan. Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak Mohamad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk. Ide membangun dari rantau yang telah diketengahkan Bapak Mohamad Natsir dan para pemimpin umat disambut baik. Tidak hanya para dermawan yang menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan, tetapi juga dari berbagai pihak dan kalangan. Karena idea yang lebih mendasar sebenarnya adalah keyakinan bahwa untuk “mencapai kemakmuran rakyat banyak sangat ditentukan oleh kemampuan merajinkan tangan dan berusaha untuk rumah tangga”. Merencana sambil tasyakur nikmat, adalah suatu kondisi yang sangat bermanfaat.

Ketika dibebaskan kembali dari karantina politik Orde Lama Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang telah mengadakan pula acara tasyakur nikmat. Acara tasyakur ini, selain telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid ini, membuahkan kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat harus diajarkan pula kepada umat di keliling kita. Seperti latihan yang telah dilaksanakan di beberapa daerah di Jawa Barat (Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor), membuahkan pengetahuan praktis pertanian dan perindusterian, sungguh sangat bisa dikembangkan untuk memajukan perekonomian umat. Terutama di Sumatera Barat. Harusnya sudah dimulai dari lingkungan sendiri seperti sutera alam dan tikar mendong dan mestinya diperkembangkan pula di Sumatera Barat.

Gerakannya perlu dilaksanakan melalui kursus dan latihan. Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April 1963 sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka. Selama kursus-kursus keterampilan ini mendapat penilaian yang positif dari Pemerintah Daerah, terutama Pemerintahan Nagari di Balingka. Sesungguhnya bergerak pada saat itu sangatlah riskan. Sering sekali terjadi apabila suatu kegiatan amal sekalipun, jika dikelola atau digerakkan oleh bekas-bekas partai Masyumi dan bekas PRRI, selalu dicurigai. Ketika itu, di tahun 1963 itu, masih berada di bawah tekanan rezim Orde Lama. Apalagi tatkala orang-orang komunis sangat bebas berkeliaran, memfitnah, menabur hasutan, dan kecurigaan. Namun, sungguhpun hanya secercah, bayangan baik di masa depan mulai menyeruak penuh harapan. Harapan yang menimbulkan optimisme. Walau kenyataannya umat tengah berada di antara tekanan diktator dan sangat banyak dikendalikan oleh PKI. Perasaan di bawah tekanan dan kecurigaan inilah yang selalu merayap dari sudut ke sudut hati setiap peserta. Kondisi ini di satu sisi menyisakan enggan dan rasa dendam penyesalan. Namun di sisi lainnya melahirkan optimisme kuat bahwa umat harus dapat membuktikan bahwa dalam perjalanan sejarah kebenaran hanya akan bangkit melalui usaha yang sungguh-sungguh jua adanya.

Kalangan pemerintah Orde Lama pada umumnya masih bersikap mencurigai. Di sebahagian daerah banyak yang menolak atau bahkan mengintimidasi semua kegiatan dari bekas Masyumi dan PRRI, hingga ke pelosok kampung dengan berbagai cara. Karena itu, pelatihan keterampilan ilmu praktis yang pertama kali ini menjadi salah satu tonggak sejarah untuk menghidupkan human elemen di daerah-daerah Sumatera Barat, untuk jangka panjang sesudahnya. Pertama sekali di- ikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah. Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria. Akan tetapi dirasa penting pula ilmu sederhana itu dipelajari oleh wanita-wanita dalam usaha secara nyata untuk mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga, sebagai bundo kandung. Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga tetap dilakukan. Seperti telah dirintis oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963.


Kemudian, berbuah dengan memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura. Di samping itu, dikembangkan pengetahuan penganyaman topi dari bambu di desa Cangkok Tangerang. Dipelajari juga cara penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor. Janamar Ajam, dari kedubes RI di Saudi juga mengirimkan bibit padi Logos untuk dicoba kembangkan di daerah kering. Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur, sangat banyak bermanfaat dalam meningkatkan hasil pendapatan keluarga. Dimulai dari penanaman bibit "bayam hikmat" (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash.

Di dalam wisma keagungan itulah senyatanya Bapak Mohamad Natsir ditahan, yaitu Rumah Tahanan Militer di Jakarta. “Bijo” atau benih tampang bayam tersebut disemai dan ditanamkan pula di lingkungan keluarga. Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, "bibit yang halus" yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar akan tumbuh dengan baik dan subur. Disertai dengan pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, "sesudah dipotong makin bercabang". Taushiyah ini, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima. Menjadi satu amanat yang harus dipelihara dalam kerangka "bai'atul qurba' itu. Dan, Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru mengungkap-kan dengan penuh pengertian "kuunuu ..bayaaman..", menjadi buhul yang kian erat untuk mengangkat amal nyata yang lebih berat. Terutama di kalangan "bundo kandung" kaum ibu sangatlah penting dikembangkan terus melalui latihan-latihan praktis, dalam rangka memanfaatkan lahan di keliling rumah.

Pada bulan Juni 1968 itu, Pak Mohamad Natsir pulang ke Padang dengan undangan Gubernur Harus Zain dan Walikota Padang Akhirul Yahya, dalam rangka peringatan ulang tahun Yayasan Kesejahteraan.

Pak Natsir berpesan antara lain ; “Kalau hari itu diperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri. Yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan. Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan.”

Di sana, beberapa tahun sebelumnya telah digariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah. Bahkan baru saja sembuh dari luka-luka terkoyaknya perang saudara, karena pergolakan daerah PRRI (pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Semesta) semasa rezim Soekarno, selama 3½ tahun lamanya. Banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati. Banyak keruntuhan yang harus dibangun. Disini diminta peran pemimpin umat.

Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayangkan sama sekali. Bahwa, kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini. Apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui, Alhamdulillahi Rabbil 'Alamien ... Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu: “Dan Ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni‟mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni‟mat-KU), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.14, Ibrahim : 7).

Kamis, 22 Mei 2008

Sabar Menerima Ujian, Menangani Musibah Gempa di Mentawai September 2007.

SABAR MENERIMA UJIAN DARI ALLAH SWT

Oleh:H.Mas'oed Abidin.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan tuntunan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya : "Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Namun gembirakanlah orang orang yang shabar. Yaitu orang orang yang bila di timpa malapetaka (musibah) diucapkannya "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Merekalah orang orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang orang yang mendapat petunjuk" (QS.2,Al Baqarah,ayat 155 157).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menetapkan satu ketentuan yang amat pasti di dalam kehidupan manusia yakni keyakinan akan adanya musibah di samping nikmat, siang sesudah malam, juga rugi di samping laba, sakit dan senang, bahkan hidup dan mati, adalah satu sunnatullah yang pasti dilalui secara bergantian, oleh setiap makhlu hidup.




Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan supaya manusia selalu menjaga kesehatan sebelum sakit datang, supaya senantiasa berhati hati sewaktu kaya karena miskin bias datang mendera, supaya selalu pula berhati hati di kala hidup masih ditempuh sebelum mati datang menjelang, dan juga agar selalu berhati hati di masa muda sebelum tua datang menghadang.

Begitulah bimbingan Agama Islam, yang pada hakekatnya menanamkan satu sikap hidup yang positif, yaitu "kehati hatian", atau dalam istilah di Minangkabau ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, ingek-ingek nan ka pai, agak-agak din an ka tingga.

Maka, setiap insan Muslim diajarkan hidup di dalam sikap optimistis yang tinggi, selalu menjaga diri, senantiasa berbuat baik selalu, karena sesudah hari ini, aka nada hari esok.
Inilah ajaran agama yang haq.



Musibah adalah ujian.
Di dalam pandangan agama Islam, hidup ini selalu mempunyai padanannya, kembar dan selalu bergandengan.
Di dalam musibah terkandung makna yang dalam artinya.
Di antaranya mengingatkan manusia, bahwa dirinya berada di dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa, sebagai inti dari ajaran tauhid.

Musibah, tidak selamanya bernilai azab.
Adakalanya hanya sebatas ujian belaka.
Di balik ujian, tersedia yang lebih baik dari sebelumnya.
Matematika seperti ini kadang kala tidak terangkat oleh bingkai rasionil semata.


Namun berada di dalam 'wilayah' keyakinan, sebagaimana diingatkan oleh wahyu Allah SWT, 'Asaa an takrahu syai an wa huwa khairun lakum, wa 'asaa an tuhibbu syai an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun.
Artinya, boleh jadi, engkau membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu (di balik sesuatu yang engkau bendi itu), dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (mungkin di balik yang disenangi, terdapat sesuatu yang sangat dibenci).
Dan Allah semata yang Maha Tahu, sedang engkau tidak mengetahui (mengenai rahasia di balik semua peristiwa).
Begitulah bimbingan wahyu Al Quran pada Surah Al Baqarah.
(QS. 2 : 216).


Barang-barang sumbangan dan tenda dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) PT. Semen Padang yang di kirim ke Mentawai sebagai bantuan untuk meringankan penderitaan umat muslim di Mentawai yang mendapat cobaan gempa bumi bulan September 2007 yang lalu.



Bantuan itu dibawa oleh Saudara Zulkifli TS, Koordinator Da'i di Sipora Mentawai.


Musibah atau cobaan dalam kehidupan, sebenarnya mengandung ajakan untuk melakukan suatu koreksian (introspeksi).
Bila pada masa sebelumnya terlakukan suatu kelalaian, maka sesudah itu harus tumbuh sikap kesungguhan untuk memperbaiki situasi kearah yang lebih baik. Dan bila pada masa masa sebelumnya yang tersua senyatanya hanya kebaikan, maka ada kewajiban meningkatkan kebaikan itu menjadi lebih sempurna.
Sehingga dengan setiap kali datangnya musibah (ujian) manusia senantiasa meningkat taraf kedudukannya kepada suatu tingkat yang lebih tinggi.
Cobaan-cobaan tidak semestinya menjadikan manusia berputus asa.
Cobaan tidak semestinya menjadikan manusia hilang kepercayaan diri.
Kepercayaan diri akan lenyap di kala manusia melupakan Tuhan dan membelakangi ajaran agamanya.

Sayangi umat binaan
Keberhasilan dakwah banyak ditentukan oleh indahnya hubungan sesama di dalam pergaulan sehari hari.
Du'aat (juru dakwah) di lapangan medan dakwah tidak boleh menyendiri, apalagi tidak mau menyayangi masyarakat yang didakwahinya.
Satu keberhasilan du'aat ditentukan oleh kesediaannya menerima dan menghormati jamaah dikelilingnya dalam rangkaian dakwah ila Allah.
Du'at (juru dakwah) adalah pengayom, dan panutan.
Tempat bertanya, dan tempat mengadukan masaalah pelik yang tak mungkin dapat diselesaikan oleh jamaahnya secara sendiri sendiri.
Sikapnya dalam memuliakan jamaahnya, selalu akan dijadikan ukuran akhlak para du'aat.


Seorang juru dakwah semestinya merasa senang menerima seseorang yang memasuki arena dakwahnya.
Dia tidak boleh menolak sesiapa yang mengharapkan bantuannya.
Dia harus selalu tanggap dengan kesulitan orang lain.
Seorang du'aat semestinya memiliki dorongan kuat untuk berbuat lebih banyak untuk orang lain (jamaah bi¬naannya), dalam batas batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati.

Sesuai dengan batas kemampuan yang dimilikinya, sekecil apapun, akan bermakna dalam menumbuhkan semangat dan percaya diri bagi umat yang dibinanya.
Jika tidak mampu memberikan materi, maka senyum dengan penuh perhatian merupakan satu pemberian yang bernilai besar, begitulah gambaran jelas akhlaq al Qurani.



Dermawan.
Al Quranul Karim menceritakan suatu perangai mulia perlu dipunyai juru dakwah untuk menempati posisi pelanjut tugas tugas risalah dinul haq, sebagai dicontohkan oleh Ibrahim AS yang didatangi tujuh pemuda untuk menguji kedermawanannya.
Tujuh pemuda ini sama sekali belum di kenal oleh Ibrahim AS.
Sungguhpun begitu, ia menerimanya dengan senanghati tanpa kecurigaan, yang diperlihat¬kan pada sikap yang tulus dalam memuliakan tamunya. Ibrahim AS. memiliki kebiasaan setiap tamunya yang datang tidak akan dilepas sebelum mereka disuguhi hidangan menurut kemampuannya, sebagai penghormatan dari "tuan rumah".

Pemuda pemuda yang senyatanya bukan tamu sembarangan ini menolak jamuan tuan rumahnya dengan halus, karena sesungguhnya mereka bukanlah manusia biasa yang memerlukan makan dan minum.
Mereka adalah tujuh malaikat terhor¬mat yang sengaja diutus Allah menguji kedermawanan Ibrahim seba¬gai juru dakwah dijalan Allah.
Rangkaian kisah indah ini diu¬langkan berbentuk wahyu kepada Nabi Muhamad SAW dalam Al Quranul Majid, sehingga menjadi salah satu bentuk dari "Akhlaq al Qur'a¬ni".


Dahulukan kepentingan umat
Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia.
Kehormatan seorang du'aat akan diuji dalam sikap ini.
Perhatian terhadap kaum kerabat (umat banyak), amat tinggi ni¬lainya.
Mementingkan urusan pribadi bukan sikap terpuji seorang du'at.




Bila manusia banyak telah terpuruk mengurus diri sendiri dan tidak peduli dengan keperluan orang lain (lingkungannya), tunggulah bencana akan datang timpa bertimpa. Medan dakwah akan jadi sempit.
Melupakan kepentingan orang banyak sangat dicela dan dinilai aniaya (dhalim) dalam ajaran Islam.
"Dzurriyat" atau generasi yang akan menyandang darjah pimpinan dan panutan tidak pernah seseorang yang bersikap dhalim (aniaya).


Ibadah sesungguhnya berperan menghapuskan kezaliman dalam diri seseorang.
Ibadah akan menumbuhkan sikap senang melaksanakan perintah Allah dan membuahkan perangai "menyayangi orang lain sebagai mengasihi diri sendiri".
Nabi Muhammad SAW mengingatkan tugas risalahnaya supaya berperilaku panutan dengan akhlaq Al Qur'ani.
"innama bu'ist tu li utammi makarimul akhlaaq" artinya, "aku diutus menyempurnakan akhlak yang mulia".

Allah mencontohkan dalam Firman Nya;
"Sungguh Ibrahim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebe¬naran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali kali bukanlah dia termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan).(Dia terma¬suk) yang mensyukuri nikmat nikmat Allah. Allah telah memilih dan menunjukinya kepada jalan yang lurus"(QS.16,An Nahl,ayat 120 121).

Di antara perangai mulia (millah) Nabi Ibrahim AS, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama keluarga dan masyarakat , pandai memilih tindakan yang tidak merugikan orang lain, dan senantiasa memimipin ummat ke jalan yang benar.
Memupuk sikap mulia ini hanya dengan selalu "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah", dalam menerapkan akhlaq al Qur'ani.

Mudah mudahan kita semua senantiasa berada dalam lindungan Rahmat dan Inayah Nya. Amin.


Jauhi SIKAP TERCELA

Rasulullah SAW selalu menganjurkan kepada setiap penganut Islam untuk menjauhi delapan sikap tercela yang manakala ada bisa menyebabkan tampilnya bencana, baik dalam hubungan seorang ataupun masyarakat dan negara.

Delapan sikap yang mesti di jauhi itu adalah ;
1.Selalu merasa sedih dan kecewa, yang senantiasa menyisakan sikap putus asa dan akibatnya menyerahkan segala sesuatu tanpa berusaha.

2. Perasaan gelisah, seakan selalu dikejar bayang-bayang.

3. Lemah, baik fisik (jasad), perasaan (kalbu) ataupun akal fikiran, yang berujung dengan menjadikan diri siap untuk di tindas orang lain,

4. Malas, sehingga tertutupnya pintu keberhasilan.

5. Sikap pengecut, yang menghambat diri untuk berusaha secara sungguh-sungguh.

6. Bakhil, yang akibatnya bisa tidak menghiraukan keadaan keliling, hapusnya solidaritas, hilangnya kepedulian. Sikap bakhil bisa pula berdampak kepada pengejaran kesenangan (harta) duniawiyah tanpa menghiraukan kepentingan orang lain (individualistis),

7. Selalu dalam cengkeraman hutang, yang berakibat kurangnya ukuran kepantasan dan kepatutan, atau tak seukuran bayang-bayang dengan badan.

8. Berada dalam penindasan orang lain, sebagai konsekwensi logis dari ketujuh sikap tercela sebelumnya.

Bila kita meneliti dan memahami langkah yang telah kita tempuh selama ini, setidaknya dalam waktu tigapuluh dua tahun masa yang telah berlalu, maka sesungguhnya kedelapan sikap tercela ini telah menghimpit bangsa ini melalui penerapan cara-cara amat sistimatik seakan dipaksanakan harus berlaku sejak dari kekuasaan atas hingga lapis terbawah.



Bangsa yang besar ini menjadi sangat kecil tatkala penipuan dalam slogan demi pembangunan dibenarkan penipuan sebagai suatu keharusan, dan penindasan hak-hak masyarakat dianggap sebagai suatu kewajaran.

Nilai-nilai kepatuhan ditampilkan dalam bentuk memutar-balikan perintah menjadi pembenaran tindakan dalam disiplin birokrasi.
Kepatuhan kepada atasan bahkan menduduki posisi tertinggi melebihi ketaatan kepada Allah SWT. Semuanya merupakan sebahagian bukti dari sikap lemah dan putus asa.

Masyarakat bertumbuh menjadi pengecut, harus n’rimo apa adanya, tanpa keinginan untuk membantah, dikerangkeng pada perangai Asal Bapak Senang. Sebetulnya, ABS perlu, bila artinya adalah “Asal Bangsa ini Sejahtera”.

Menjauhi kedelapan perangai ini menjadi suatu kewajiban asasi dalam hidup manusia sebagai “hamba Allah”.
Dapat dilakukan dengan aktifitas amaliah yang terpadu terarah (sustained) secara pasti dengan penerapan disiplin beragama dalam kerangka “iman dan taqwa”. Upaya lainnya juga dengan cara melazimkan do’a (munajat) kepada Allah SWT pada setiap pagi dan petang.

Di antara do’a munajat yang di ajarkan Rasulullah SAW tersebut untuk kita amalkan adalah, ”Allahumma, wahai ALLAH, sungguh aku berlindung kepada MU dari pada rasa sedih atau kecewa (al-hammiy) dan gelisah (al-hazniy). Dan akupun berlindung kepada MU, wahai Allah, dari watak yang penuh dengan kelemahan (al-‘ajziy) serta sifat kemalasan (al-kasali). Dan, aku pun juga memohon kepada Engkau, wahai Allah, perlindungan dari sikap pengecut (al-jubniy) dan bakhil (al-bukhliy). Aku pun berselindung kepada MU, wahai Allah dari cengkeraman hutang (ghalabatid-dayni) dan penindasan orang lain (qahriy ar-rijaal)”. (Do’a ma’tsur dari HR.Bukhari Muslim).

Di tengah bangsa kita mengalami masa ujian sekarang ini (chaos politik, ekonomi, sosial dan budaya), dan dirasakan adanya upaya pemaksaan dari pihak lain, diantaranya upaya menguasai/membeli Indonesia dengan label penyelematan ekonomi nasional, termasuk di dalamnya rencana penjualan BUMN, Gempa bumi dan berbagai bencana alam, kenaikan harga BBM dan semakin parahnya kehidupan rakyat miskin, maka sebaiknya do’a ini kembali dilazimkan membacanya setiap pagi dan sore.

Do’a munajat ini harus pula di iringi usaha sekuat tenaga dan secara bersama-sama menghilangkan sifat-sifat tercela ini dengan memulai dari diri sendiri, untuk mengerjakan apa yang bisa dan bermanfaat untuk orang banyak dengan modal (self-help) di keliling kita.

Modal besar itu, adalah kesepakatan, kerjasama, kesetia kawanan, seia-sekata (ukhuwwah), sumber daya (alam dan manusia) dalam suatu ikatan kebangsaan sebagai Rahmat Allah, serta selalu memohon pertolongan dari Allah SWT. Sebab, yang ada itu sebenarnya sudah teramat cukup untuk memulai. Semoga Allah selalu meredhai.***


JANGAN MENJADI ORANG ANIAYA

Di kala Nabi Ibrahim AS di uji oleh Allah (Subhanahu wata'ala), tentang ketabahan nya, kerelaan berkorban, keteguhan pendirian, sikapnya dalam memuliakan tetamu, berbuat baik sesama kerabat, dan kesiapannya dalam melaksanakan perintah Allah dan melepaskan ketergantungan kepada perintah materi (kebendaan), ternyata ia lulus dari ujian yang berat itu.

Ujian jiwa ini, secara beruntu dia alami, dan sungguh pun berat, dia berhasil melaluinya.

Ketabahannya terbukti, dikala ia dihadapkan kepada pilihan dibakar di dalam sebuah unggun api, Oleh Namrudz (Maharaja Nebucadnear) yang menguasai Mesopotamia. Atau kedudukan yang layak di sisi sang penguasa, manakala ia berkenan menggantikan perannya melaksanakan Dakwah Ilallah kepada Dakwah Ilalmaal (perjuangan mendapatkan harta).

Terbukti, Ibrahim A.S. lebih memilih menegakkan kebenaran dengan serba tipuan. Dia menang, dan imbalannya api unggun yang bergejolak membakar setiap kayu kering yang bersilang, tak mempan menyentuh sehelai rambut Ibrahim A.S sesuai dengan firman Allah, "wahai api, din¬ginlah dan selamatkan tubuh Ibrahim dari gejolakmu yang membakar".

Kerelaannya berkorban, tak tertandingi hingga kini. Anak kesayangannya satu satunya (Ismail, Alahisalaam), rela di korbankan, untuk disembelih untuk memenuhi tuntu¬tutan atau melaksanakan perintah Allah Yang Maha Rahman. Akhirnya pengorbanan diterima, anaknya tidak jadi menemui korban penyembelihan. Tetapi diganti dengan ternak sembi¬lahan yang besar, sebagai jawaban kerelaan yang tulus mengikuti perintah Allah.

Peristiwa ini dinukilkan oleh Allah di dalam firman Nya, "akhir, kerelaan Ibrahim menyahuti panggilan kami, berkorban karena mengharapkan kerelaan Kami, diganti dengan seekor ternak sembelihan yang sempuna besarnya".

Keteguhan pendiriannya, tidak pula diragukan. Ayahnya (Azar), yang selalu berpegang pada tradisi lama (menyembah berhala), diajaknya supaya meninggalkan tradisi itu. Kebiasaan memohon kepada "yang bukan Tuhan" itu, merupakan watak yang tidak pantas dimiliki oleh manusia yang bera¬kal. Padahal, manusia itu sendiri ada, dan ditengah alam ini, justru karena "rahmat" dan "rahim" dari Allah (sang Khalik).

Penghambaan kepada materi, menyebabkan lahirnya sesuatu bencana.
Materi adalah sesuatu rahmat dari Allah.
Karena itu, seharusnya materi itu dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran bagi manusia sekelilingnya.

Benda hanya alat.
Bukan tujuan, apalagi sesuatu sembahan yang berakibat rela diperbudak oleh materi. Mempertahankan materi (benda) tidak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
Kesadaran seperti ini (yang amat sesuai dengan fithrah manusia), selalu disampaikan oleh Ibrahim kepada ayahnya (Azar).
Namun selalu ditolak.
Akhirnya, Ibrahim memilih berpisah dari keyakinan "tradisional bapaknya yang salah pilih itu.
Namun itu tetap berkata, sebagaimana diulangkan cerita oleh Allah (Subhanahu Wa Ta'ala) dalam Firman Nya, "Ibrahim berkata kepada ayahnya, Selamt tinggal (wahai ayah, dalam keyakinan tradisional ayah yang tak bisa dirobah lagi, nanti akan selalu memohonkan keampunan (untuk ayah) kepada Tuhan ku karena sesungguhnya Tuhan ku masih sayang kepada ku". (Al Qur'an, S. 18, ayat 47).

Sikapnya dalam memuliakan tetamu, juga menjadikan pujian.
Dia tidak pernah menolak tamu yang diharapkan bantuannya.
Dia selalu tanggap dengan kesulitan orang lain.
Bahkan dia lebih senang berbuat untuk kesenangan orang lain, dalam batas batas hubungan yang harmonis dan saling menghormati.

Berbuat baik sesama kerabat, merupakan perangai yang teramat mulia. Walaupun dia sudah dipuji dengan segala kehormatan, dan diberi gelar darjah "Khalilul lah, serta mendapatkan kehormatan, dan bagai "pimpinan" bagi ummat manusia, dia masih memohonkan kepada Allah, kiranya peng¬hargaan sedemikian tidak hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.



Ibrahim ('alaihi salam), masih mempersoalkan "bagai¬mana halnya dengan (kaum kerabat) anak keturunanku.
Memperhatikan kaum kerabat, lebih tinggi nilainya, daripada hanya sekedar memperjuangkan kemenangan sendiri, atau hanya bertolak kepada kepentingan pribadi. Jika manusia secara umum telah terperosok kepada hanya untuk kepentin¬gan sendiri sendiri, tanpa mengindahkan kepentingan orang banyak, maka tentulah bencana akan datang tindih bertindih.

Orang yang hanya suka mempertahankan kepentingan individu, tanpa mempertimbangkan orang banyak, tepat diberikan cap sebagai orang aniaya (dhalim) menurut istilah dari Allah (Yang Maha Rahman).

Dia juga sosok ummat yang pandai berterima kasih, serta memelihara ni'mat Allah. Merupakan seseorang yang terpilih tindakannya dan terpuji perangainya dan selalu mendapatkan bimbingan dan selalu pula berusaha memimpin kejalan yang benar dan lurus. Karena itu, dia mendapatkan kehidupan dunianya aman tentram.

Akhirnya, di akhirat, (pada kehidupan yang menjadi tujuan setiap makhluk yang hidup di dunia sekarang ini), dia akan kami tempatkan bersama orang orang shalih yang terpilih.

Kepada Nabi Muhammad SAW diwahyukan supaya mengikuti jejak langkah perangai mulai yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, yaitu patuh, jujur, pandai berterima kasih, berkasih sayang sesama anggota, keluarga dan masyarakat, pandai pandai memilih tindakan yang tidak sampai merugi¬kan orang lain, selalu berusaha memimipin ummat ke jalan yang benar, dan diatas segalanya "berpegang teguh kepada Hidayah Agama Allah".

Benteng agama yang dianugerahkan untuk setiap manusia di dalam menghadapi musibah adalah sabar, tegar dan tabah mengiringi ikhtiar yang lebih baik dalam kemasan bekerja dan berdo'a.

Kembali kepada Allah dengan mematuhi semua ajaran ajaran Nya, dan menjauhi setiap larangan Nya adalah hakekat sabar yang sebenarnya.
Semoga semua yang ditimpa musibah saat ini, (kematian pemimpin, kekeringan, tiada hujan, kabut dan asap, kecelakaan pesawat, kelaparan, kebakaran, banjir dan musnahnya ikan di karamba), dapat mengambil iktibar yang mendalam dari bentuk cobaan Allah ini, supaya kita bersegera kembali kepada Nya, dan ber istighfar memohon ampun atas segala kesalahan, baik yang di ketahui ataupun yang tidak, dan melazimkan saling memaafkan.

Kembalilah beribadah kepada Allah, hidupkan fikiran dan gerakkan tenaga, cari apa yang di redhai Allah, supaya Allah senantiasa meredhai usaha usaha kita. Sekali kali jangan berputus asa terhadap rahmat dan lindungan ALLAH.

Begitulah hendaknya, Amin.